Sunday, January 26, 2014

29 Puisi

Puisiiii.... Belum sempet baca semua, banyak banget sih baru beberapa aja tapi udah ngena banget. Read this :)


DI BALIK TIRAI RELIGIKU (puisi)

Ya Allah…
Kau telah menciptakanku dengan indah
Kau telah memberikanku kesempurnaan akal
Sehingga aku dapat melihat dan merasakan semua rahmat Mu
Serta karunia dari segala ciptaan Mu

Ya Allah...
Aku selalu bergetar jika mendengar nama Mu
Aku Takkan sanggup jika jauh dari Mu,
Karena itu menyengsarakan hatiku

Ya Allah...
Sering aku takut dengan azab Mu karena kelalaianku
Tapi entah kenapa aku sendiripun tak tahu
Kadang aku tergoda akan bujuk rayu nya
Yang menjauhkanku dari Mu

Ya Allah...
Setiap menjelang tidur ku selalu merasa takut
Takut tak punya waktu lagi untuk menyebutkan nama Mu
Apakah esok hari aku masih bisa mengagungkan nama Mu..

Puisi ke-1
Tangerang, 27 Februari 2001


Maha suci Allah...
Yang telah membuka hatiku untuk bertaubat
Serta bermunajat kepada Mu
Setiap langkah yang kujejakkan di bumi
Hanya untuk menuju kepada Mu
Ketika itu nafas pun dapat berpisah dari raga
Hanya dengan ijin dan kekuasaanMu...

Ketakutan akan dosaku selalu muncul...
Akankah akhir nafas berlalu dan berakhir
Dengan khusnul khotimah
Bayangan kehidupan setelah alam dunia
Selalu datang saat menjelang terlelap
Saat itu roh tak bersatu dengan raga
Saat itu jiwa melayang di bawah alam sadar
Apakah roh ini akan kembali....Atau
Bahkan tak bersatu lagi ‘tuk selamanya....
Atau bahkan singgah di tempat yang indah dan mempesonakan

Betapa Engkau Maha Agung...
Betapa Engkau Maha Mulia...
Yang mengetahui segala kejadian yang bakal terjadi
Allahu Akbar.....

Puisi ke-2
Tangerang, 16 Maret 2001


Saat ku ingat dirinya...
Tergambar semua bayangan bersamanya....
Apa yang terjadi pada kalbu ini
Sehingga aku menduakan cinta dan kasihku pada Mu
Terlalu banyak pengharapan
Akan merusak rajutan jiwa yang indah
Yang telah terjalin dalam kalbu
Keterbatasan ilmu telah mempersempit pandangan....
Hanya Sang Raja Ilmu
Yang tahu apa yang akan terjadi kemudian hari

Allahu Akbar....
Engkau Maha mengetahui....
Diri ini bisa mengenal dekat diri Mu bersamanya
Sekian lama kudambakan cinta Mu dan merindukan kasih Mu
Akhirnya kutemukan bersamanya...
Illahi Rabbi akan selalu kucinta
Walau dirinya hanya tinggal bayangan di mata
Dan hilang dari simpul hati....

Allah Maha pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat
Kupasrahkan dan keserahkan jiwa dan raga pada Mu
Diri ini terlalu hina untuk ke syurga Mu....Tapi
Ku sangat takut dengan neraka Mu
Ya Rabb.... Bimbinglah aku dengan segala cinta Mu....

Puisi ke-3
Tangerang, 2001



Sering terbayang kebahagiaan
Selalu terangkul bersamanya
Seseorang yang baik hati....
Dirimu bagai lautan yang api tak dapat kuselami sampai ke dasar hatimu
Kau sungguh bersahaja tapi begitu arogan...

Ucapanmu pedas tetapi penuh kebenaran
Kata-katamu menyakitkan tetapi obat kepedihan
Kau begitu tegar walau kadang menangis
Dirimu adalah imajinasiku....
Fikirmu adalah hatiku....
Sikapmu adalah figurku...
Dan senyummu adalah inspirasiku

Kebahagiaanmu merupakan dambaanku
Kesedihanmu merupakan airmataku
Takkan pernah terbersit di hati ‘tuk lari darimu
Semoga Allah selalu melindungi dan mencintaimu...
Dan semoga Allah mengampuni segala dosaku...


Puisi ke-4
Tangerang, 13 April 2001


Saat pertama jejakkan kaki padamu
Terbersit di dalam hati...
Hendak kemana dibawa diri ini...
Apakah tujuan langkah kaki ini...
Setiap langkah yang diiringi doa membawa berkah
Maka hidup yang bagaimana yang akan dijalani...
Alangkah indahnya hidup ini andai yang hidup tahu makna hidup

Melangkah ke tujuan yang baik akan selamat
Dan melangkah ke jalan yang ragu
Akan membawa petaka dan kesengsaraan
Tanyakanlah hati...
Apakah diri ini mahluk Allah yang berbakti
Serta temukanlah cahaya Nurani
Warna apakah yang akan terukir dalam hidup

Hati nurani takkan pernah berbohong
Takkan pernah keluar dari garis keimanan
Selama dia tetap terjaga


Puisi ke-5
Tangerang, Maret 2001



Di mata Illahi....
Kau sama halnya dengan yang lain
Begitu juga diri ini
Mengapa wujudmu selalu membayangi
Penyebab kesedihan dan kepedihan
Di hati yang gundah gulana...
Kau menjadi pengacau hati
Dan kau yang membuat galau hati
Tetapi kau jugalah yang menyejukkannya...

Kau membawa ke taman bunga keimanan
Sehingga bunga-bunga di hatipun tumbuh subur dan segar bersemi
Kau membawa ke alam pengharapan tanpa tahu kapan berakhir
Sehingga terlarut dalam lamunan yang semu...

Semoga diri yang manja dan mentah ini
Akan berubah dewasa dengan kematangan logika yang indah


Puisi ke-6
Tangerang, 16 maret 2001



Apakah yang ada dalam gelap...
Dengan sebenar-benar gelap...
Tak sebutir debupun mampu terlihat
Kala itu mata tak dapat berfungsi
Tetapi hati nurani tetap bisa meraba
Jika mata saat itu buta....
Jangan biarkan hati nurani membeku tak bergeming
Karena yang tahu arah kebenaran hanyalah dia

Terangilah dia dengan cahaya jiwa yang tulus
Yang selalu mendamba cinta-Nya
Dan menanti kasih-Nya

Puisi ke-7
Tangerang, 4 April 2001



Saat terpaku menyelamimu
Begitu terasa dekat dengan penciptamu
Betapa kau sangat tenang
Betapa banyak kau menyimpan rahasia
Tetapi dirimu tetap tak berbatas
Kau sangat bersahaja dan bersahabat
Tetapi kadangkala kaupun adalah bencana

Ketika malam datang bersama semilir angin
Yang menyentuh tubuh dan jiwaku
Akupun terpana dan terhanyut
Mengenangkan keindahan dan keangkuhanmu
Betapa Agung penciptamu...
Betapa Mulia keberadaanmu...
Betapa indah ciptaan Rabbku...

Puisi ke-8
Tangerang, April 2001
Setapak demi setapak
Kujejakkan kaki menyusurimu
Apa yang kucari...
Sehingga diri ini mau berpeluh keringat
Menelusurimu...

Setiap langkah selalu ku memuji Mu
Betapa besar kuasa Mu
Betapa agung diri Mu

Semakin jauh kuberjalan semakin penat diri ini
Tapi...Entah mengapa
Semakin terasa bahagia di hati ini
Maha Suci Allah yang telah membahagiakan hati

Semakin letih kaki ini, semakin ku merasakan
Betapa sempurna ciptaan dan karunia Mu
Saat terbentang anugerah Mu,
Yang begitu indah dan menakjubkan
Aku tenggelam dalam pesona Mu dengan doaku
Sungguh diri ini tak berarti apa-apa
Sungguh kepintaran yang kumiliki hanya fatamorgana

Betapa Engkau penentu segalanya
Hidup dan matiku Engkau yang atur
Sehat dan sakitku Engkau yang kehendaki
Allahu... Akbar... Hanyutkanlah aku
Dalam lautan keagungan Dan kebesaran Mu

Puisi ke-9
Cibodas, 15 April 2001



Ya Rabb...
Andai ku bisa menatap Mu
Pasti takkan sanggup ku memandang Mu
Andai ku dapat melihat takdirku
Tentu ku tak kuasa ku ‘tuk menitikkan airmata

Begitu malu ku menatap dan bersua dengan Mu
Karena ku takut dengan azab Mu
Begitu hinanya diriku dihadapan Mu
Begitu banyaknya dosa yang t’lah kutanamkan di taman Mu
Begitu banyaknya benih kufur yang t’lah ke tebarkan di persada Mu

Ya Rabb...
Aku memohon kepada Mu
Aku bermunajat kepada Mu
Sucikanlah hatiku agar tak hina di mata Mu
Berilah aku hidayah agar tak berpaling dari nikmat Mu
Bimbinglah aku agar selalu mencintai Mu
Maha Suci Engkau Ya Allah...
Yang maha mengetahui segala yang tak ku tahu

Puisi ke-10
Tangerang, April 2001



Kala kurasakan sejuknya percikkanmu
Terbayangku pada kejernihan hatimu
Saat kuberdiri memandangmu
Terbayangku pada keindahan dirimu
Dan ketika kuberjalan menghampirimu
Terasa begitu kecilnya diri ini dibandingkan denganmu

Kau begitu gagah tetapi terselubung misteri
Suaramu bergemuruh tetapi tampak bersahabat
Kau banyak menebar pesona tetapi tak mudah diraih
Semua kata akan terangkai indah jika berada di sisimu
Semua laku akan tersaji menawan jika bersama denganmu

Hanya kebahagiaanlah yang terajut indah di dalam kisi-kisi hati ini
Dan hanya cintalah yang terukir jelas dalam sendi-sendi tubuh ini
Seketika itu sadarlah diri dan jiwa ini...
Bahwa sungguh Allah Maha Agung...
Bahwa sungguh Allah Maha Perkasa... lagi Maha Indah...

Puisi ke-11
Cibodas, Mei 2001



Saat ku mengingatmu, kau pergi menjauh dariku
Saat ku akan meninggalkanmu, kau mendekatiku
Tetapi semua itu hanyalah sebuah fatamorgana
Aku sadar...Itu adalah suatu imajinasi semu sesaat
Karena selalu tak kutemukan jalan ‘tuk berpijak
Sehingga ku terbang melayang di dalam khayal
Mengikuti alur rasa yang tak bisa dimengerti logika

Aku tahu itu hanyalah hayalan dengan penuh pengharapan
Berharap sesuatu yang tak mungkin diraih
Dan akupun tahu itu hanyalah bayangan
yang sedang mencari persembunyian tuannya

Hanya kau yang tahu di mana bayangan itu
Dan hanya kaulah yang tahu di mana tempat persembunyiannya

Saat kau perlihatkan semua itu
Saat itu pula segala rasa hampa dan tanpa logika
lalu menghilang seketika
Walau hampa tetap selalu kunikmati rasa yang hilang itu
Dan ku takkan pernah bisa menolak jika rasa itu kembali

Puisi ke-12
Tangerang, 2002



Apa kabar sahabat...
Aku datang lagi padamu
Tetapi dengan membawa hati yang hampa
Karena manisnya telah hanyut
Bersama dengan hujan kemarin sore
T’lah kucoba ‘tuk mendapatkan manis yang abadi
Tetapi tak kutemukan di sini...

Semakin hari... semakin hilang simpatiku
Semakin hari... semakin memudar pesonamu
Tetapi tiada kata yang dapat menggambarkan hati
Dan tiada asa yang dapat mengakhiri kisah

Sahabat...
Kesedihanmu menggugurkan bunga-bunga di taman hati
Airmatamu menghancurkan karang-karang di lautan
Hilangnya dirimu dapat menggelapkan terangnya siang
Tegarnya hatimu seperti gunung-gunung di atas permadani hijau...

Sahabat...
Walau tak indah aku tetap mengagumimu
Walau hampa aku ingin selalu bersamamu
Biarpun aku hanya dinding yang bisu bagimu
Tetapi aku tetap menyayangimu
Dan semoga Allah selalu mencintaimu....

Puisi ke-13
Tangerang, Januari 2002


Ingin kumenjerit agar kau mendengarkan
Ingin kuteriak agar kau bergeming
Ingin kubisikkan kata agar kau tak berkhayal
Sehingga tak terbang dengan sayap-sayap yang rapuh...

Kau telah melukiskan kisah yang takkan terhapus
Kau telah merangkaikan kata yang takkan terputus
Dan aku hanyalah sebuah dinding bagimu
hanya bisa menyaksikan kisahmu dengan segala kebisuanku
Aku hanyalah sebuah pagar bagimu
hanya bisa membatasi ucapanmu dengan segala keheninganku

Kau dapatmeninggalkannya kapanpun kau ingin
Kau dapat mendatanginya kapanpun kau butuh
Kau dapat merengkuhnya kapanpun kau gundah
Dan kaupun bisa menghapus coretan yang t’lah tergores padanya
Kau juga bisa mencabutnya dengan segala kekuasaanmu

Dinding dan pagar mu tetap berdiri kokoh
Walaupun diterpa badai dan gempa
Karena kau telah wujudkan dia dari bahan yang kokoh
Kau telah warnai dia dengan lukisan yang indah
Dan kau telah ukir dia dengan liukan yang tajam
Hiasilah dia selalu dengan senyum dan cintamu
Agar dia tetap memancarkan pesona hatimu

Puisi ke-14
Tangerang, Januari 2002



Dulu aku tak mengenalmu...
Dulu aku tak tahu siapa dirimu
Hanya waktu dan nasiblah yang mengenalkan keberadaanmu
dalam kehidupanku

Sahabat...
Pernah ku goreskan luka di hatimu, kau tetap tersenyum
Pernah ku tumpahkan airmatamu, kau tetap bahagia
Pernah ku usik ketenanganmu, kau tetap bersahabat
Dan pernah ku meninggalkanmu dalam kesedihanmu, kau tetap bersahaja

Sahabat...
Tak terlintas di benak ‘tuk menyakitimu
Tak terbersit di hati ‘tuk meninggalkanmu
Dan tak pernah terlintas di fikir ‘tuk meninggalkanmu
Semua karena khilaf dan lupaku

Sahabat...
Bagiku kau adalah bunga yang indah
Bagiku kau adalah lautan yang luas
Dan kau adalah pelita yang menyala
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkahmu


Puisi ke-15
Tangerang, Februari 2005







Ketika malam menyelimuti langit yang kelam
Tampak gelap di setiap langkah dan jalan
Doapun tak henti berkumandang
agar hati tetap diterangi cahaya dan Cinta Mu

Pernah terbersit di hati ‘tuk menghilang dari peredaran Mu
Pernah terlintas di benak ‘tuk mengakhiri kisah
Tapi dengan cinta Mu bisa bertahan dan terus bertahan
Sampai saatnya nanti yang ditentukan tiba

Ooh...........
Betapa hampanya diri ini
Betapa letihnya jiwa ini
Betapa beratnya peluh yang mengalir dalam batin ini

Ya Rabb....................
Tak ada satu kuasapun yang dapat menolong
Tak ada satu bait katapun yang bisa menyejukkan hati
Serta tak ada setitik airpun yang sanggup menghilangkan dahaga
Juga tak ada seorangpun yang tulus menjawab semua firasat

Ya Rabb....................
Hanya Engkau yang dapat menolong kami
Hanya Engkau yang bisa membahagiakan hati kami
Dan hanya Engkau yang tulus menghapus kekhilafan kami

Wahai Rabb......
Cinta Mu selalu dalam pengharapanku
tapi sering pula terabaikan dalam ujubku
Nama dan sifat Mu selalu dalam penghayatanku
tapi sering pula terlupaku dan jauh dari Mu

Ya Rabb............
Semoga dalam sisa usia ini
selalu cinta pada Mu serta kekasih Mu
Semoga dalam setiap kata-kata ini
selalu Indah dengan bunga-bunga dzikrullah
dan Semoga selalu dalam keberkahan di dunia dan akhirat

Allahu Akbar.............Kau sungguh maha Pengampun
Subhanallahu............ Kau sungguh maha Penyayang

Ya Allah........Bimbinglah diri ini dalam ridho Mu...
Akhirilah kisah hidup ini dalam khusnul khotimah......
Amin........ Ya Rabbal ‘alamin......

Puisi ke – 16
Tangerang, September 2005



Saat terbujurku di pembaringan
tak dapat ku ‘tuk merengkuh indahnya duniaku
Saat penat tubuh menari-nari di jaringan syarafku
tak sanggup ku ‘tuk bercengkrama dengan alamku

Ooh.........
Betapa bahagia saat diri dapat tertawa
Betapa gembira saat jiwa terbuai canda
Tapi.... Yang terasa kini tak seperti yang diharap
Inilah takdir yang tak dapat ditolak
Inilah Cinta-Mu yang harus disambut dengan dzikir
Dan inilah Sayang-Mu yang disyukuri dengan tawaddu’

Ya Rabb...........
Terima kasih Kau telah menyayangi diri ini
Terima kasih Kau telah mengingatkan jiwa ini
Dan terima kasih atas karunia yang Kau berikan
Pada hamba-Mu yang tak berdaya dan hina ini....

Ya Rabb..........
Akan kuagungkan semua Cinta-Mu
Akan kuselami semua Karunia-Mu
Dan akan kusyukuri semua nikmat-Mu Ya Rabb.....

Ya Rabb.........
Panjangkanlah usiaku seiring dengan Rahmat-Mu
Muliakanlah hidupku senafas dengan Hidayah-Mu
Serta Cintailah jiwaku selaras dengan Karunia-Mu

Puisi ke – 17
Tangerang, 6 Desember 2005



Wahai kau yang di pojok sana.....
Kutahu apa yang kau harapkan
Kutahu apa yang kau dambakan
Dan akupun tahu kau tak berharap hidup
dan dilahirkan dalam duniamu kini

Tapi...itulah takdirmu
Itulah wujud kehidupan yang harus kau rengkuh
Jangan kau sesali semua itu
Jangan kau ingkari apa yang sudah digariskan

Sobat......
Setiap kata yang kau ucapkan penuh haru
Setiap lagu yang kau nyanyikan penuh rintihan
Dan setiap laku yang kau perankan penuh kesedihan

Sobat......
Kau takkan bisa merubah duniamu dengan
keterbatasan akalmu
Kau takkan bisa mengganti wajahmu dengan
keterbelakangan ilmumu

Sobatku di ujung jalan.....
Kau tak bisa kusentuh tetapi kau begitu menyentuhku
Kau jauh dari penglihatanku tetapi kau ada di depan mataku

Aku ingin kau bahagia tanpa dirundung kesedihan
Aku ingin kau tertawa dengan pancaran cahaya syurgamu
Dan aku ingin kau mulia dengan segala keterbatasanmu

Wahai Rabb Penguasa Hati......
Peliharalah mereka dengan segala cinta Mu
Sayangilah mereka walau kadangkala menghindar
Muliakanlah mereka walau seringkali lalai
Karuniakanlah mereka nikmat dan hidayah Mu
Walau mereka acapkali lupa

Rabb.....bahagiakanlah bagi hati-hati yang teraniaya...

Puisi ke – 18
Tangerang, Nopember 2005



Tuhan.......
Aku tak pernah menyangsikan Kasih Mu
Aku tak pernah meragukan Sayang Mu
Akupun tak pernah mengingkari takdir Mu
Tapi mengapa Tuhan.....?
Apa yang terjadi pada diri dan jiwa ini
Mengapa gundah selalu menghampiriku
Mengapa gelisah selalu menemaniku
Tuhan...... Berikanlah jawaban Mu
Aku mohon Tuhan....... Tunjukkanlah......

Puisi ke – 19
Tangerang, Nopember 2005



Tuhan.......
Jangan biarkan aku larut dalam dukaku
Jangan biarkan aku tenggelam dalam lamunan semuku
Jangan diamkan aku terlena dalam khilafku
Dan jangan biarkan tetesan airmataku menggenang kemerah-merahan

Tuhan......
Dengarkanlah rintihan doaku, agar selalu dalam rahmat Mu
Hapuskanlah airmataku, agar tak ada lagi
kesedihan yang mencengkramku
Redamkanlah amarah dan dendamku, agar terpancar cerah
cahaya hati nuraniku
Serta tenangkanlah gemuruh yang menggebu di dadaku
Sehingga aku dapat membaca isyarat Mu

Tuhan......
Kau begitu Agung dan Mulia
Hanya Kau yang yang dapat membolak-balikkan hatiku
Hanya Kau yang berkuasa atas hidupku
Dan...Hanya Kau yang pantas aku cintai
Tapi......Kenapa ada cinta lain bersemayam dihatiku.....?
Tuhan maafkan aku tlah membagi cintaku...

Puisi ke – 20
Tangerang, 21 Desember 2005



Kau begitu kunantikan
Kau yang selalu kurindukan
Tetapi kau tlah menghilang tanpa jejak
Dan kaupun lenyap bagaikan diselimuti kabut

Aku tak pernah tahu isi hatimu
Aku tak pernah mengerti maksud dari perhatianmu
Dan akupun tak pernah membalas senyummu
Sampai akhir perjumpaanmu

Sahabat hatiku......
Kini kau mengisi sebagian dalam mimpiku
Bayangmu selalu menari-nari dalam benakku
Andai karma itu ada dalam kehidupanku
Maka itulah yang kini keperankan

Tuhan.........
Biarkan dia menjadi kenangan bagiku
Aku tak berharap dia hadir dalam kehidupanku
Tapi hidupkanlah dia dalam wujud sahabatku yang lain
Sebagai pengganti dia yang tlah hilang

Tuhan........
Sayangilah orang-orang yang tlah mencintaiku
Cintailah mereka yang tlah mengisi relung hatiku
Serta bahagiakanlah mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta
Dan lindungilah mereka selalu dalam Rahmat Mu

Puisi ke – 21
Tangerang, 21 Desember 2005



Bunda..........
Itulah panggilan yang pantas kau sandang
Itulah cahaya yang selalu terpancar di matamu
Takkan pernah lepas sayangku terhadapmu
Takkan pernah terbayang bahagiaku jika kau tiada

Bunda...........
Ku tahu begitu banyak derita yang kau dera,
Demi aku yang ingin air susumu
Begitu banyak luka tlah tergores dihatimu,
Hanya untuk memberikan aku sesuap nasi
Sungguh banyak airmata yang tlah tertumpahkan,
Karena aku yang ingin kau selamatkan dari nista
Dan begitu besar pegorbanan yang tlah kau hadirkan,
Dalam menanti aku tumbuh dewasa

Bunda..........
Aku pernah meninggalkanmu dalam kesendirian
Aku pernah menjauhkanmu dari kasih sayangku
Dan akupun pernah mengabaikan nasehatmu dari hidupku
Sehingga membuat genangan airmata dikelopak matamu
Begitu hinanya aku di matamu tapi kau tetap memelukku
Begitu kotornya aku di sela kehidupanmu tapi kau tetap menciumku

Ooh bunda..........
Hatimu bagaikan permata di mataku
Wujudmu bagaikan bidadari dalam kehidupanku
Senyummu bagaikan air yang menyejukkan dahagaku
Dan nasehatmu bagaikan bunga dalam taman hatiku

Bunda..........
Ijinkan aku bersimpuh di kakimu,
Agar terhapus setitik luka di hatimu
Biarkan aku larut dalam rangkulan pelukmu,
Agar terobati sekuntum derita yang tlah kau simpan
Dan berilah aku waktu untuk mencium syurgaku,
Agar setiap titik bahagiamu dapat ku rasakan

Bunda..........
Kau adalah mutiara hatiku
Kau adalah pelita dalam perjalanan hidupku
Kau adalah bunga dalam jiwaku
Semoga Allah menyayangimu sebagaimana kau mencintaiku
Dan semoga khusnul khotimah di akhir hayatmu....
Amien..............

Puisi ke – 22
Tangerang, 22 Desember 2005



Sahabat..................
Dulu aku tak mengenalmu...
Dulu aku tak tahu siapa dirimu
Hanya waktulah yang mengenalkanmu
Dalam perjalanan hidupku

Sahabat..................
Kau adalah bunga yang indah
Kau adalah lautan yang luas
Dan kau adalah pelita yang menyala
Dalam marahmu kutahu ada sayangmu
Di balik kata-kata pedasmu kutahu ada perhatianmu

Sahabat...............
Senyummu bagai air menyejukkan dahaga
Kebaikanmu dapat menumbuhkan bunga-bunga yang layu
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkahmu....
Dan semoga Allah selalu mencintai dan menyayangimu.....
Amien..............

Puisi ke – 23
Tangerang, 17 Januari 2006



Waktu berlalu tak pernah akan berhenti
Dan kematianpun akan semakin mendekati
Bagaikan air mengalir menuju muaranya..

Dalam sekejap terhiasilah hati pada nuansa ukhrawi
yang mewarnai jiwa dan raga

Kekosongan hati adalah santapan bagi sang durjana
yang siap menyeret ke lembah curam lagi terjal
Kelemahan iman adalah selimut bagi sang pendosa
yang tiada pernah takut pada kematian

Siapkah diri yang menjalani hidup...?
Bagaimanakah takdir yang menggores pada diri...?

Rabb...
Terangilah jalan hidup ini, agar tak nampak gelap dalam jiwa
Luaskanlah ilmu dan fikir ini, agar tak terpedaya sang penggoda
Lapangkanlah dada ini, agar tak kotor hati dan darah
Dan kokohkanlah iman ini, agar selalu dapat berjumpa dengan Mu

Puisi ke-24
Tangerang, 13 Desember 2006



Aku punya Jiwa dan jiwa punya aku....
Aku tak pernah kesepian karena jiwa selalu bersamaku
Aku tak pernah bersedih karena jiwa selalu menghiburku

Saat aku jatuh Jiwa yang menolongku
Ketika aku jenuh Jiwa yang memperhatikanku
Dan sewaktu aku menangispun Jiwa yang menghiburku

Jiwa....
Kau lah teman sejatiku
Kau lah cahaya hatiku
Dan kaulah Mahkota kehidupanku
Jika kau tiada maka musnahlah diriku

Jiwa....
Kau mengajariku mengenal Asma Tuhanku
Kau melantunkan irama Rabbani pada Ruhku
Dan pasti kau akan berdalil di hari pembalasanku nanti

Rabb....
Bahagiakan lah Jiwa untukku seutuhnya
Cintailah Jiwa hatiku selamanya
Dan Bimbinglah Jiwa hidupku ke jalan Mu
Amin Ya Allah..
Ya Rabbal alamin....

Puisi ke-25
Tangerang, 14 Desember 2006




Saat badai tiba-tiba datang menerpa.....
seketika itupun nafasku terhenti
seakan lepas ruh dari raga
Aliran darah tersumbat di simpul nadi
seakan tak ingin mengalir kembali
Dan jiwapun ikut terbang melayang
Seakan tak hendak berjumpa dengan diri...

Tubuh lunglai, kaku tak bergeming ada di hadapanku
Terbaring membujur kearah Kiblat
Diam membisu tak menguntai kata
Hanya suara merdu KalamMu dari sang pendatang yang menggema

Yaa Rabb.....
Tak sanggupku melihat tubuh itu
Tak hendak aku berpisah dari tubuh itu
Tak kuasa aku dengan kebisuan tubuh itu

Yaa Rabb....
Andai aku boleh memohon, hidupkan tubuh kaku itu
Agar aku bisa merengkuhnya dengan hangat tubuhku
Dan andai aku boleh mengigau,akupun ingin seperti itu
Agar tak kurasa sekaratku dalam nyata

Yaa Rabb.....
Ampunilah diri yang lemah ini...
Semua adalah kuasa Mu yang ku junjung tinggi
Semua adalah Taqdir Mu yang ku ikhlaskan
Andai waktu dapat ditunda banyak cinta pasti didapat
Cinta tak sempurna dari sang pemikir yang tak berpikir

Rabb.......
Bimbinglah hati dan jiwa ini yang sempat hilang tak bertuan
Cintailah diri ini yang sempat kehilangan nyawa cinta Mu
Jernihkanlah akal ini yang sempat berpikir melebihi batas pikirku

Rabb.......
Terima kasih atas nafas yang telah Kau hembuskan
Terima kasih atas akal yang telah Kau sempurnakan
Terima kasih atas nikmat yang telah Kau karuniakan
Semoga Khusnul Khotimah dalam sisa perjalanan ini
Amiiin....

Puisi ke – 26
Tangerang, Mei 2007



Kuambil air yang suci dari tempat suci
Kubasuh mukaku yang penuh debu dan sedu
Kuberdiri menghadap kiblat ‘tuk berjumpa dengan Tuhanku
Kuangkat tanganku ‘tuk takbir mengagungkan nama Mu
Lalu tersungkurku bersujud ‘tuk menghiba kepada Mu
Dan kuangkat kedua tanganku ‘tuk memohon ridho dari Mu

Sungguh bahagia karena aku mengenalMu
Sungguh bahagia ketika aku menjumpaiMu

Semoga hanya Kau dalam jiwaku
Hanya Kau dalam hatiku
Dan hanya Kau dalam pikirku
Sampai akhir hayatku nanti
Amin Yaa Rabbal alamin...

Puisi ke – 27
Tangerang, Agustus 2007



Sahabat.......
Kau begitu cerdas dalam penglihatanku
Kau begitu ceria dalam alam sadarku
Dan kaupun begitu mulia dalam mata hatiku

Dalam wajahmu terpancar cahaya hatimu
Dalam langkahmu tergambar pesonamu
Dan dalam senyummu tersirat ketulusanmu

Semangatmu menumbuhkan inspirasiku
Ilmumu menyejukkan nuansa akalku
Dan penampilanmu menghiasi alam pikiranku

Yaa Rabb......
Sungguh indah hasil karya Mu
Sungguh sempurna ciptaan Mu

Sahabat.....
Semoga kau tetap tegar dalam setiap langkahmu
Selalu bahagia dalam perjalanan hidupmu
Selalu di ridhoi Allah dalam setiap kata-katamu
Dan selalu dihiasi bunga-bunga indah
dalam taman hatimu yang dirajut sutra

Yaa Rabb....
Bahagiakanlah mereka yang berhati mulia
Cintailah mereka yang selalu di jalan Mu
Lindungilah mereka yang mencintai jihad Mu
Karuniakanlah mereka ilmu yang bermanfaat
Dan Khusnul khotimah di akhir hayatnya..
Amien.............
Puisi ke – 28
Tangerang, 20 Januari 2008



Derai tawaku menyiratkan sedihku
Debar jantungku menandakan galauku

Detik demi detik kutebar senyumku
Tapi tak menumbuhkan bunga di taman hatiku
Waktu demi waktu kutebar pesonaku
Tapi tak meruntuhkan marah dan aroganku

Ku temukan cinta yang semu
dari seorang manusia yang semu
Ku rasakan sayang dalam fatamorgana
dari seorang hamba yang fatamorgana

Begitu ingin ku menjadi ombak yang lembut
Yang selalu bergulung dan saling berkejaran
Begitu ingin ku menjadi burung yang cantik
Yang selalu berkicau dan saling menyapa

Rabb........
Kunantikan selalu cinta Mu untukku
Kurindukan selalu sayang Mu untukku
Kurasakan selalu nikmat Mu untukku
Dan kupasrahkan hidupku hanyalah untuk Mu

Puisi ke – 29
Tangerang, 21 Januari 2008

 

Source : http://yuseakamarullah.blogspot.com/p/di-balik-tirai-religiku-puisi.html

Apa Yang Kamu Cari Dalam Hidup Ini?

Masih, pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu saja berdentang di kepala saya:
"Sebenarnya apa sih yang dicari dalam hidup?"
Malam kemarin saya mengobrol banyak dengan seorang sahabat lama, membicarakan hidup, membicarakan waktu, membicarakan kehidupan. Bermula dari pertanyaan, "Kamu gimana sekarang sama kerjaannya?", lalu mengalir deras berbagai cerita dan pertanyaan-pertanyaan absurd yang memang sebenernya tak harus dipertanyakan. Hingga akhirnya, pertanyaan itu mencuat lagi.
Dari dulu saya selalu merenungkannya dengan berbagai pikiran di kepala saya, mencari jawabannya, tapi tak pernah merasa puas. Banyak orang akan menjawab, yang mereka cari adalah kebahagiaan, ketenangan hidup, serta Ridha Allah SWT.
Lalu apa definisi dari kebahagiaan?
Punya harta yang melimpah, punya mobil dan rumah mewah, menikah segera dan dianugerahi keturunan, punya pekerjaan hebat di perusahaan besar dengan gaji dua digit? Apa kah semua itu yang banyak orang cari ketika usianya masih produktif?
Pernah suatu saat, ketika saya pulang dari kantor di pagi buta, mendapati diri melamun sendirian di kost, lalu bertanya: "Ngapain saya di sini? Harus ya mencari penghidupan sampai pindah ke kota orang, sendirian jauh dari orang tua? Pulang di pagi buta?"
Hmm, rasanya ada yang salah. Rasanya ngga perlu sampai begini.
Kedua orang tua saya masing-masing bekerja sudah hampir tiga puluh tahunan, lalu pernah saya tanya kepada mereka, "Mah, Pah, ngga bosen apa jadi pegawai sampai selama itu?"
Lalu mereka hanya tersenyum dan menjawab dengan enteng,
"Ya dinikmatin aja, kerja itu harus ikhlas biar ngga berat. Lagian ini demi teteh juga, kalo ngga gitu, mana bisa nyekolahin kalian jadi sarjana kayak sekarang, kalo bisa malah lebih." DEG!
Kebahagiaan itu relatif, tiap orang punya standar kebahagiaannya sendiri. Untuk mereka mungkin definisi kebahagiaan adalah, punya anak yang bisa membanggakan dan bikin tenang mereka. "Punya anak-anak kayak kalian aja udah kebahagiaan terbesar buat mama.", "Tau teteh sehat di sana aja, mamah udah tenang dan bersyukur."
Betapa bahagia itu sederhana.
Kuncinya cuma mensyukuri yang dimiliki, mensyukuri kehidupan yang diberikan saat ini. Kalo ngga kayak gitu ya ngga akan pernah puas, pasti terus mencari-cari sesuatu yang ngga ada, sesuatu yang belum dimiliki.

Kadang saya ingin menjadi layang-layang, terbang bebas dan tenang di udara.
Hal yang banyak dicari kedua adalah ketenangan hidup. Ketenangan macam apa?
Akhir-akhir ini banyak banget orang mengumbar kegalauannya, kegamangannya akan hidupnya. Yang belum selesai kuliah, galau gara-gara TA-nya; yang baru lulus kuliah, galau takut ngga dapetin kerjaan yang bagus; orang yang udah kerja, galau pengen nyari perusahaan lain yang menjanjikan gaji yang lebih besar; yang masih single, galau pengen buru-buru nikah; yang udah nikah, galau takut ngga bisa punya anak; yang udah punya anak, galau gimana ngebesarin dan nyekolahin anak di tengah kondisi biaya hidup yang semakin tinggi; yang punya banyak harta, takut hartanya tiba-tiba hilang atau dirampok orang jahat; yang ngga punya uang, takut ngga bisa makan dan ngga bisa beli apa-apa.
Terus aja galau, terus aja takut, terus aja cemas. Selalu dihantui oleh rasa ketakutan, terus kapan bisa tenangnya? Kapan bisa bahagia dan menikmati hidupnya?
Tiba-tiba sakit jantung, lalu mati gimana?
“Ingatlah, hanya dengan dzikir mengingat Allah lah hati akan tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28).

Ketenangan itu memang hanya datang dari Allah. Mau nyari pelarian kemana pun kamu ngga akan pernah ngerasa benar-benar tenang. Dulu, saya sering banget lari dari masalah dengan kabur ke tempat-tempat sepi, mengasingkan diri, tapi yang didapat cuma ketenangan sesaat, setelah itu kecemasan-demi-kecemasan muncul lagi. Mengumbar kegamangan dan kegundahan sama orang lain juga ngga akan membuahkan apa-apa, seringnya malah jadi tambah galau. Jadi mending cerita sama Tuhan aja, minta ketenangan, minta dicariin jalan yang terbaik :)


Hal yang dicari ketiga adalah Ridha Allah SWT. Pasti.
Ridha itu artinya senang. Segala hal yang kita lakuin selama ini apakah disenangi sama Allah atau engga? Nah, kalo udah gini ujung-ujungnya harus kembali ke syariat agama. Segala yang diperintahkan-Nya, silakan dijalankan dengan sebaik-baiknya, tetapi hal-hal yang salah dan dilarang-Nya, sudah pasti harus dijauhi.

.. ah, daripada tulisan ini semakin panjang dan saya semakin sotoy, mari berusaha menjadi orang baik dulu biar Allah seneng, lalu akhirnya dikasih kebahagiaan dan ketenangan hidup.

Source : http://melartholic.blogspot.com/2012/11/apa-yang-kamu-cari-dalam-hidup-ini.html

Friday, January 24, 2014

12 Kriteria Pakaian Wanita

READ! And realized how far i am...

 12 Kriteria Pakaian Muslimah

 







Betapa banyak kita lihat saat ini, wanita-wanita berbusana muslimah, namun masih dalam keadaan ketat. Kadang yang ditutup hanya kepala, namun ada yang mengenakan lengan pendek. Ada pula yang sekedar menutup kepala dengan kerudung mini. Perlu diketahui bahwa pakaian muslimah sudah digariskan dalam Al Qur’an dan Al Hadits, sehingga kita pun harus mengikuti tuntunan tersebut. Yang dibahas kali ini bukan hanya bentuk jilbab, namun bagaimana kriteria pakaian muslimah secara keseluruhan.

Syarat pertama: pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ingat, selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki karena termasuk aurat.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.

Syarat kedua: bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik! Yang terkahir ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.
Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan.

Syarat ketiga: pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian muslimah juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)
Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

Syarat keempat: tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih). Lihatlah ancaman yang keras ini!

Syarat kelima: tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَعَنَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْمُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ ، وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Sungguh meremukkan hati kita, bagaimana kaum wanita masa kini berbondong-bondong merampas sekian banyak jenis pakaian pria. Hampir tidak ada jenis pakaian pria satu pun kecuali wanita bebas-bebas saja memakainya, sehingga terkadang seseorang tak mampu membedakan lagi, mana yang pria dan wanita dikarenakan mengenakan celana panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Betapa sedih hati ini melihat kaum hawa sekarang ini begitu antusias menggandrungi mode-mode busana barat baik melalui majalah, televisi, dan foto-foto tata rias para artis dan bintang film. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Syarat keenam: bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (baca: pakaian syuhroh). Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِى الدُّنْيَا أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا
Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Pakaian syuhroh di sini bisa bentuknya adalah pakaian yang paling mewah atau pakaian yang paling kere atau kumuh sehingga terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang pula maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai di negeri tersebut dan tidak digunakan di zaman itu. Semua pakaian syuhroh seperti ini terlarang.

Syarat ketujuh: pakaian tersebut terbebas dari salib. Dari Diqroh Ummu Abdirrahman bin Udzainah, dia berkata,
كُنَّا نَطُوفُ بِالْبَيْتِ مَعَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ فَرَأَتْ عَلَى امْرَأَةٍ بُرْداً فِيهِ تَصْلِيبٌ فَقَالَتْ أُمُّ الْمُؤْمِنِينَ اطْرَحِيهِ اطْرَحِيهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَحْوَ هَذَا قَضَبَهُ
“Dulu kami pernah berthowaf di Ka’bah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lantas mengatakan, “Lepaskanlah salib tersebut. Lepaskanlah salib tersebut. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan). Ibnu Muflih dalam Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Salib di pakaian dan lainnya adalah sesuatu yang terlarang. Ibnu Hamdan memaksudkan bahwa hukumnya haram.”

Syarat kedelapan: pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan).  Gambar makhluk juga termasuk perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabaruj sebagaimana yang disebutkan dalam syarat kedua di atas. Ada pula dalil lain yang mendukung hal ini. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh, pen). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Setelah itu beliau bersabda,
إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ القِيَامَةِ الذِّيْنَ يُشَبِّهُوْنَ ِبخَلْقِ اللهِ
Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ini adalah lafazhnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)

Syarat kesembilan: pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal.

Syarat kesepuluh: pakaian tersebut bukan pakaian kesombongan.

Syarat kesebelas: pakaian tersebut bukan pakaian pemborosan .

Syarat keduabelas: bukan pakaian yang mencocoki pakaian ahlu bid’ah. Seperti mengharuskan memakai pakaian hitam ketika mendapat musibah sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah Rofidhoh pada wanita mereka ketika berada di bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa pengharusan seperti ini adalah syi’ar batil yang tidak ada landasannya.
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua dalam mematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Alhamdullillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.

Rujukan:
1. Faidul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, Mawqi’ Ya’sub, Asy Syamilah
2. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Islamiyah-Amman, Asy Syamilah
3. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh ‘Amru Abdul Mun’im Salim, Maktabah Al Iman
4. Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, Ibnul Jauziy, Darun Nasyr/Darul Wathon, Asy Syamilah
5. Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.remajaislam.com

http://amininoorm.wordpress.com/2011/12/07/12-kriteria-pakaian-muslimah/

Ekspresi Anak-Anak Super

EKSPRESI WAJAH ANAK-ANAK MISKIN (PICS)

(Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

 

Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (QS.Ar-Rahman)
Ya Allah…maafkan atas kelalaian kami kurangnya rasa syukur terhadap nikmat rezeki yang kami miliki sekarang dan kealpaan kami atas terlenanya rezeki yang Engkau berikan. Semoga kita semua selalu menjadi orang yang selalu mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan di setiap detik, menit, jam serta hari ini dan hari-hari yang akan datang. Dan tidak menjadi orang yang mendustakan semua ni’mat- Nya. Aamiin.

http://gizanherbal.wordpress.com/2011/12/06/ekspresi-wajah-anak-anak-miskin-pics/
http://www.eramuslim.com/oase-iman/maka-nikmat-tuhan-kamu-yang-manakah-yang-kamu-dustakan.htm
Pekerja anak-anak:



























Ketika mereka menginginkan apa yang mereka tidak mampu








DAN ANAK-ANAK PALESTINA…






Anak Palestina menyaksikan detik-detik kematian ibunya…




Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari
عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh imam-imam ahlul-hadits, di antaranya:
1. Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/159).
2. Imam ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul-Kabîr (II/156, no. 1649), dan lafazh hadits ini miliknya.
3. Imam Ibnu Hibban dalam Shahîh-nya (no. 2041-al-Mawârid).
4. Imam Abu Nu’aim dalam Hilyatu- Auliyâ` (I/214, no. 521).
5. Imam al-Baihaqi dalam as-Sunanul-Kubra (X/91).
Dishahîhkan oleh Syaikh al-‘Allamah al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 2166).
FIQIH HADITS (1) : MENCINTAI ORANG-ORANG MISKIN DAN DEKAT DENGAN MEREKA
Wasiat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tujukan untuk Abu Dzar ini, pada hakikatnya adalah wasiat untuk ummat Islam secara umum. Dalam hadits ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepada Abu Dzar agar mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Kita sebagai ummat Islam hendaknya menyadari bahwa nasihat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tertuju juga kepada kita semua.
Orang-orang miskin yang dimaksud, adalah mereka yang hidupnya tidak berkecukupan, tidak punya kepandaian untuk mencukupi kebutuhannya, dan mereka tidak mau meminta-minta kepada manusia. Pengertian ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
لَيْسَ الْمِسْكِيْنُ بِهَذَا الطَّوَّافِ الَّذِي يَطُوْفُ عَلَى النَّاسِ، فَتَرُدُّهُ اللُّقْمَةُ وَاللُّقْمَتَانِ وَالتَّمْرَةُ وَالتَّمْرَتَانِ. قَالُوْا : فَمَا الْمِسْكِيْنُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِيْ لاَ يَجِدُ غِنًى يُغْنِيْهِ وَلاَ يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ، وَلاَ يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا.
“Orang miskin itu bukanlah mereka yang berkeliling meminta-minta kepada orang lain agar diberikan sesuap dan dua suap makanan dan satu-dua butir kurma.” Para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, (kalau begitu) siapa yang dimaksud orang miskin itu?” Beliau menjawab,”Mereka ialah orang yang hidupnya tidak berkecukupan, dan dia tidak mempunyai kepandaian untuk itu, lalu dia diberi shadaqah (zakat), dan mereka tidak mau meminta-minta sesuatu pun kepada orang lain.”[1]
Islam menganjurkan umatnya berlaku tawadhu` terhadap orang-orang miskin, duduk bersama mereka, menolong mereka, serta bersabar bersama mereka.
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul bersama orang-orang miskin, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak berbicara dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi mereka enggan duduk bersama dengan orang-orang miskin itu, lalu mereka menyuruh beliau agar mengusir orang-orang fakir dan miskin yang berada bersama beliau. Maka masuklah dalam hati beliau keinginan untuk mengusir mereka, dan ini terjadi dengan kehendak Allah Ta’ala. Lalu turunlah ayat:
“Janganlah engkau mengusir orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan petang hari, mereka mengharapkan wajah-Nya”. [al-An’âm/6:52].[2]
Mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, yaitu dengan membantu dan menolong mereka, bukan sekedar dekat dengan mereka. Apa yang ada pada kita, kita berikan kepada mereka karena kita akan diberikan kemudahan oleh Allah Ta’ala dalam setiap urusan, dihilangkan kesusahan pada hari Kiamat, dan memperoleh ganjaran yang besar.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ…
“Barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang yang dililit hutang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan akhirat… ” [3]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
السَّاعِى عَلَى اْلأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِيْنِ كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ –وَأَحْسِبُهُ قَالَ-: وَكَالْقَائِمِ لاَ يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لاَ يُفْطِرُ.
“Orang yang membiayai kehidupan para janda dan orang-orang miskin bagaikan orang yang berjihad fii sabiilillaah.” –Saya (perawi) kira beliau bersabda-, “Dan bagaikan orang yang shalat tanpa merasa bosan serta bagaikan orang yang berpuasa terus-menerus”.[4]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu berkumpul bersama orang-orang miskin, sampai-sampai beliau berdo’a kepada Allah agar dihidupkan dengan tawadhu’, akan tetapi beliau mengucapkannya dengan kata “miskin”.
اَللَّهُمَّ أَحْيِنِيْ مِسْكِيْنًا وَأَمِتْنِيْ مِسْكِيْنًا وَاحْشُرْنِيْ فِيْ زُمْرَةِ الْمَسَاكِيْنِ.
“Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan kumpulkanlah aku bersama rombongan orang-orang miskin”.[5]
Ini adalah doa dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Allah Ta’ala memberikan sifat tawadhu` dan rendah hati, serta agar tidak termasuk orang-orang yang sombong lagi zhalim maupun orang-orang kaya yang melampaui batas. Makna hadits ini bukanlah meminta agar beliau menjadi orang miskin, sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Atsir rahimahullah, bahwa kata “miskin” dalam hadits di atas adalah tawadhu [6]. Sebab, di dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung dari kefakiran.[7]
Beliau berdoa seperti ini, karena beliau mengetahui bahwa orang-orang miskin akan memasuki surga lebih dahulu daripada orang-orang kaya. Tenggang waktu antara masuknya orang-orang miskin ke dalam surga sebelum orang kaya dari kalangan kaum Muslimin adalah setengah hari, yaitu lima ratus tahun.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِيْنَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ.
“Orang-orang faqir kaum Muslimin akan memasuki surga sebelum orang-orang kaya (dari kalangan kaum Muslimin) selama setengah hari, yaitu lima ratus tahun”. [8]
Orang–orang miskin yang masuk surga ini, adalah mereka yang taat kepada Allah, mentauhidkan-Nya dan menjauhi perbuatan syirik, menjalankan Sunnah dan menjauhi perbuatan bid’ah, menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebab terlambatnya orang-orang kaya memasuki surga selama lima ratus tahun, adalah karena semua harta mereka akan dihitung dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Ta’ala.
Dalam hadits yang lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a agar mencintai orang-orang miskin. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِيْ وَتَرْحَمَنِيْ، وَإِذََا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِيْ غََيْرَ مَفْتُوْنٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِيْ إِلَى حُبِّكَ.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan perbuatan munkar, mencintai orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu, rasa cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, dan rasa cinta kepada segala perbuatan yang mendekatkanku untuk mencintai-Mu”. [9]
Selain itu, dengan menolong orang-orang miskin dan lemah, kita akan memperoleh rezeki dan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ.
“Kalian hanyalah mendapat pertolongan dan rezeki dengan sebab adanya orang-orang lemah dari kalangan kalian”.[10]
Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهُ هَذَهِ اْلأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ.
“Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka”.[11]
PENUTUP
Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk penulis dan para pembaca, dan wasiat Rasulullah ini dapat kita laksanakan dengan ikhlas karena Allah Ta’ala. Mudah-mudahan shalawat dan salam tetap tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada kelurga dan para sahabat beliau.
Akhir seruan kami, segala puji bagi Allah, Rabb seluruh alam.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi Ramadhan (06-07)/Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1039 (101)), Abu Dawud (no. 1631), dan an-Nasâ`i (V/85). Dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.
[2]. Lihat Shahîh Muslim (no. 2413), Sunan Ibni Majah (no. 4128), dan Tafsîr Ibni Katsir (III/90).
[3]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699), Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud (no. 3643), at-Tirmidzi (no. 2646), Ibnu Majah (no. 225), dan Ibnu Hibban (no. 78 dalam al-Mawârid). Dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
[4]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5353, 6006, 6007) dan Muslim (no. 2982), dari Sahabat Abu Hurairah. Lafazh ini milik Muslim.
[5]. Hadits hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (no. 4126), ‘Abd bin Humaid dalam al-Muntakhab (no. 1000), dan selain keduanya. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 308) dan Irwâ`ul Ghalîl (no. 861).
[6]. Lihat an-Nihâyah fî Gharîbil-Hadîts (II/385) oleh Imam Ibnul-Atsir rahimahullah .
[7]. HR an-Nasâ`i (VIII/265, 268) dan al-Hakim (I/531).
[8]. Hadits hasan shahîh. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2353, 2354) dan Ibnu Majah (no. 4122), dari Abu Hurairah rahimahullah. Lihat Shahîh Sunan at-Tirmidzi (II/276, no. 1919).
[9]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Ahmad (V/243), lafazh ini miliknya, at-Tirmidzi (no. 3235), dan al-Hakim (I/521), dan dihasankan oleh at-Tirmidzi. At-Tirmidzi berkata,”Aku pernah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il –yakni Imam al-Bukhari- maka ia menjawab, ‘Hadits ini hasan shahîh’.” Dari Sahabat Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu. Di akhir hadits, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهَا حَقٌّ، فَادْرُسُوْهَا وَتَعَلَّمُوْهَا.
Sesungguhnya ia (doa tersebut) merupakan hal yang benar, maka pelajari (hafalkan), dan perdalamlah.
[10]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 2896) dari Sahabat Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu.
[11]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh an-Nasâ`i (VI/45) dari Sahabat Mush’ab bin Sa’d Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahîh Sunan an-Nasâ`i (II/669, no. 2978).
Diposting oleh Abu Fahd Negara Tauhid, dengan menukil dari berbagai macam sumber.

http://amininoorm.wordpress.com/2011/12/07/ekspresi-wajah-anak-anak-miskin-pics-maka-nikmat-tuhan-kamu-yang-manakah-yang-kamu-dustakan/

http://gizanherbal.wordpress.com/2011/12/06/ekspresi-wajah-anak-anak-miskin-pics/

Alasan kenapa aku kapok ke rumah temen yang konglomerat

Fiction story.Suatu ketika saya pergi ke rumah temen yang sangat kaya. Setelah dipersilahkan masuk, seorang pembantunya menghampiri saya...

Pembantu (P) : Selamat siang Tuan. Mau minum apa??? Jus buah, soda, teh, coklat, cappuccino, frapuccino, kopi atau yang lain?
Saya (S) : Teh saja, makasih.

P : Tehnya teh ceylon, teh india, teh herbal, teh alang-alang, teh hijau atau teh apa?

S : Teh ceylon

P : Teh ceylonnya pake es, hangat atau panas?

S : Pakai es saja

P : Esnya mau es batu, diserut kasar, diserut salju atau dihancurkan acak?

S : Oh, gak usah repot-repot. Es batu saja.

P : Es batunya mau yang bentuk kubus, pipih, bulat, tabung atau hati-hatian?

S : Yang hati-hatian juga gapapa.
P : Baik. Anda mau tehnya hitam atau putih?
S : Putih.

P : Dengan susu atau krim segar?

S : Dengan susu.
P : Susu kambing, susu domba atau susu sapi?
S : Susu sapi dong!!!
P : Sapi selandia baru, sapi australia atau sapi lokal?
S : Eh, ga jadi putih. Yang hitam aja tehnya.
P : Pemanisnya mau pakai gula atau madu?
S : Dengan gula.

P : Gula tebu atau gula rendah kalori atau gula bit?

S : Gula tebu.

P : Gula tebunya yang putih, coklat atau kuning?

S : Lupakan tehnya. Saya minta air putih saja.
P : Air mineral, air rebus atau air suling?
S : Air mineral.
P : Dingin atau biasa?
S : Dingin.
P : Dinginnya pakai es atau dingin tanpa es?
S : Dingin tanpa es.
P : Dinginnya minus berapa derajat? -5, -10, -15?
S : Weleh-weleh…… Makin haus aku. Dah saya pamit pulang.

http://amininoorm.wordpress.com/2011/12/31/alasan-kenapa-saya-kapok-ke-rumah-temen-yg-konglomerat-joke/
© ikanurfallah ♔
Maira Gall