Tuesday, February 18, 2014

STORY Ayah Tiri

1-Jun-13
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم


Sebuah kisah inspiratif & memberikan motivasi hidup, dari pedalaman Negeri seberang.

"Ayah kandungku meninggal krn kanker paru² stadium akhir saat saya berusia 6 thn. Beliau juga meninggalkan Ibu & Adik saya yg masih berusia 2 thn. Sejak saat itu kehidupan kami se-hari² sangat sulit. Setiap hari Ibu bekerja membanting tulang di sawah hanya cukup utk menyelesaikan masalah perut saja.

Saat saya berusia 9 thn, Ibu menikah lagi & menyuruh kami memanggilnya Ayah. Pria tsb adlh Ayah Tiri saya. Utk selanjutnya Beliau yg menopang keluarga kami.

Dlm ingatan masa kecil, Ayah Tiri saya seorang yg sangat rajin, Beliau juga sangat menyayangi Ibu. Pekerjaan apa saja dlm keluarga yg membutuhkan tenaganya akan Beliau lakukan, selamanya tdk membiarkan Ibu utk campur tangan.

Se-hari² Ayah Tiri adlh orang yg pendiam. Usianya kira² 40-an lebih, berperawakan tinggi & kurus, tetapi bersemangat. Dahinya hitam, memiliki sepasang tangan besar yg kasar, di wajahnya yg kecoklatan terdapat sepasang mata kecil yg cekung.

Ayah Tiri saya mempunyai suatu kebiasaan, tdk peduli pergi kemana pun, diatas pinggangnya selalu terselip sebatang pipa rokok antik berwarna coklat kehitaman. Setiap ada waktu senggang dia selalu menghisap rokok menggunakan pipa itu. Sejak dulu saya tdk suka dgn perokok, oleh karenanya saya juluki dia dgn sebutan “setan perokok”.

Dlm ingatan saya, Ayah Tiri selalu tenang dlm menghadapi segala persoalan, tdk peduli besar kecilnya permasalahan selalu dihadapinya dgn santai. Namun hanya krn sebatang pipa rokok, Ayah Tiri tlh memberikan saya satu tamparan yg sangat keras.

Teringat wkt itu Ayah Tiri baru saja menjadi anggota keluarga kurang lebih ½ thn, suatu hari saya menyembunyikan pipa rokoknya. Hasilnya, Beliau selama bbrp hari merasa gelisah & tdk tenang, sepasang matanya merah laksana berdarah. Akhirnya krn saya diinterogasi dgn keras olh ibu, dgn berat hati saya menyerahkan pipa rokok itu.

Ketika saya menyerahkan pipa itu kehadapan Ayah Tiri, Beliau menerimanya dgn tangan gemetaran & tak lupa Beliau memberikan saya satu tamparan keras, kedua matanya berlinangan air mata.

Saya sangat ketakutan & menangis, Ibu menghampiri & memeluk kepala saya lalu berkata, “Lain kali jgn pernah menyentuh pipa rokok itu, mengertikah kamu? Pipa itu adlh nyawanya!”

Stlh kejadian itu, pipa rokok itu menjadi penuh misteri bagiku. Saya berpikir, “Ada apa dgn pipa itu shg membuat Ayah Tiri bisa meneteskan air mata? Pasti ada sebuah kisah tentangnya.”

Mungkin tamparan itu tlh menyebabkan dendam terhadap Ayah Tiri, gak peduli bgmnpun jerih payah pengorbanannya, saya gak pernah menjadi terharu. Sejak usia belia, saya selalu berpendapat Ayah Tiri sama jahatnya spt Ibu Tiri dlm dongeng Puteri Salju. Sikap saya terhadap Àyah Tiri sangat dingin, acuh tak acuh, lebih² jangan harap menyuruh saya memanggil dia “Ayah”.

Tapi ada sebuah peristiwa yg membuat saya mulai ada sedikit kesan baik terhadap Ayah Tiri.

Suatu hari ketika saya baru pulang sekolah, begitu masuk rumah segera melihat kedua tangan Ibu memegangi perut sambil berteriak kesakitan. Ibu ber-guling² di ranjang, butiran besar keringat dingin bercucuran di wajahnya yg pucat.

Celaka! Penyakit maag Ibu kambuh lagi! Saya & Adik menangis mencari Ayah Tiri yg bekerja di sawah. Mendengar penuturan kami, dia segera membuang cangkul ditangannya, sandal pun gak sempat dia pakai. Sesampai di rumah tanpa berkata apapun, segera menggendong Ibu ke rumah sakit spt orang sedang kesurupan. Ketika Ibu & Ayah Tiri kembali ke rumah, hari sudah larut malam, Ibu kelelahan tertidur pulas di atas pundak Ayah Tiri.

Melihat kami berdua, Ayah Tiri dgn nafas ter-sengal², tertawa & berkata kpd kami, “Beres, sdh tdk ada masalah. Kalian pergilah tidur, besok masih hrs bersekolah!” Saya melihat butiran keringat sebesar kacang berjatuhan bagai butiran mutiara yg terburai, jatuh pd sepasang kaki besarnya yg penuh tanah.

Kesengsaraan yg saya alami dimasa kecil, membuat saya memahami penderitaan seorang petani. Saya menumpahkan segala harapan saya pd ujian masuk ke Universitas. Tetapi pertama kali mengikuti ujian, saya mengalami kegagalan.

“Bu, saya sangat ingin mengulang sekali lagi,” pinta saya pd Ibu.

“Nak, kamu tahu sendiri keadaan ekonomi kita, adikmu juga masih sekolah di SMA, kesehatan Ibu juga tdk baik, pengeluaran dlm keluarga semua menggantungkan Ayahmu. Lihatlah sendiri ada berapa gelintir orang di desa ini yg mengenyam pendidikan SMA? Ibu berpendapat kamu pulang ke rumah utk membantu Ayahmu!”

Tp saya sdh menetapkan niat, bersikap teguh tdk mau mengalah. Saat itu Ayah Tiri tdk mengatakan apa², Beliau duduk di halaman luar menghisap rokok dgn pipa kesayangannya. Saya tdk tahu di alm benaknya sedang memikirkan apa.

Esok harinya Ibu berkata pd saya, “Ayah setuju kamu kuliah, giatlah belajar!”

Ayah Tiri menjadi orang yg pertama kali menerima & membaca surat penerimaan mahasiswa saya. “Bu, anak kita diterima diperguruan tinggi!” teriaknya.

Saya & Ibu berlari keluar dr dapur. Ibu melihat & membolak-balik surat panggilan itu meski satu huruf pun dia tdk mengenalinya. Tetapi kegembiraan itu tersirat dr tingkah lakunya. Malam itu tak tahu mengapa Ayah Tiri sangat gembira hingga bicaranya juga banyak.

Saya mengambil botol arak dimeja makan & dgn sikap sangat hormat menuangkan arak itu satu gelas penuh utk Ayah Tiri. Hitung² sbg rasa terima kasih atas jerih payahnya selama 1 thn! Dgn takjub Ayah Tiri memandang ke arah saya, wajahnya penuh dgn kegembiraan. Sekali mengangkat gelas & meneguk habis, mulutnya tak henti-²nya berkata, “Patut, sangat patut sekali!”

Tetapi utk selanjutnya biaya uang sekolah perguruan tinggi sejumlah 4.000 yuan itu membuat keluarga cemas. Ibu mengeluarkan segenap uang tabungannya serta menjual & meminjam kesana kemari, tetap masih kurang 500 yuan.

"Gimana nih? Kuliah akan dimulai satu hari lagi". Saat makan malam, hidangan diatas meja tdk ada seorang pun yg menyentuhnya. Ibu menghela napas panjang sedangkan Ayah Tiri berada disampingnya sambil merokok, sibuk memperbaiki alat tani ditangannya, saya tdk tahu mengapa hatinya begitu tenang? Suara napas Ibu membuat hati saya hancur luluh lantak.

“Sudahlah saya tdk mau kuliah! Apa kalian puas?” Saya berdiri dgn gusar, & bergegas masuk kamar, merebahkan diri di ranjang lalu mulai menangis…….. Saat itu saya merasakan ada satu tangan besar yg keras me-nepuk² pundak saya, “Sudah dewasa masih menangis, besok Ayah pergi berusaha, kamu pasti bisa kuliah.”

Malam itu Ayah membawa pipa rokoknya, menghisap seorang diri di halaman rumah hingga larut malam, percikan api rokok yg sekejap terang & gelap menyinari wajahnya yg banyak mengalami pahit getir kehidupan. Dia memejamkan sepasang mata, raut wajahnya menyembunyikan perasaan & sangat berat. Kepulan asap rokok dgn ringan menyebar didepan matanya, mengaburkan pandangan, tak seorang pun tahu apa yg sedang dia pikirkan, tetapi yg pasti dlm hatinya tdk tenang.

Besoknya Ibu memberitahu saya bhw Ayah Tiri pergi ke kabupaten. “Pergi utk apa?” Percikan bunga api dr harapan hati saya tersirat keluar.

“Dia bilang pergi ke kota mencari teman menanyakan apakah bisa pinjami uang.”

“Apa usaha temannya?” Ibu menggelengkan kepala, mulutnya bergumam, “Gak tahu.”

Hari itu saya menunggu di depan desa, memandang ke arah jalan kecil yg ber-kelok². Utk kali pertama perasaan hati saya ada semacam dorongan ingin bertemu Ayah Tiri, & utk kali pertama saya merasakan berharganya sosok Ayah Tiri dlm jiwa saya, masa depan saya tergantung pd dirinya.

Hingga malam saya baru melihat Ayah Tiri pulang. Saat saya melihat wajahnya yg penuh senyuman, hati saya yg selalu cemas, akhirnya bisa merasa lega. Ibu bergegas mengambil seember air hangat utk merendam kakinya. “Celupkanlah kakimu, berjalan pulang pergi 40 ㎞ perjalanan cukup membuat lelah.” Dgn lembut Ibu berkata pd Ayah Tiri.

Saya mengamati wajah Ayah Tiri dgn saksama, & menemukan bhw Beliau bukan lagi seorang pria yg masih kuat & kekar spt dulu. Wajahnya pucat pasi & bibir membiru, dahinya hitam penuh dgn kerutan, rambut pendek serta tangan kurus bagaikan kayu bakar, penuh dgn tonjolan urat hijau.

Memang benar, Ayah Tiri sdh tua. Dgn hati² Ibu melepaskan sepasang sepatunya yg hampir rusak. Di bawah sinar temaram lampu neon, terlihat sebuah benjolan darah besar yg sdh membiru masuk dlm pandangan saya, tak tertahankan hati saya merasa sedih, air mata saya diam² menetes keluar……..

Keesokan hari ketika saya berangkat kuliah, Ayah Tiri mengatakan Beliau tdk enak badan, diluar dugaan Beliau tdk bisa bangun dr tempat tidur.
Dlm perjalanan mengantar saya kuliah Ibu berkata, “Nak, kamu sdh dewasa, diluar sana semuanya tergantung pd diri sendiri. Sebenarnya Ayah Tirimu itu sangat menyayangimu, Dia sangat mengharapkanmu memanggilnya Ayah! Tetapi kamu……”

Suara Ibu sesenggukan, saya menggigit bibir dgn suara lirih berkata, “Lain kali saja, Bu!”

Setiap kali membayar uang kuliah, Ayah Tiri pasti pergi ke kota utk meminjam uang. Ketika liburan musim dingin & panas tiba, saya jarang berbicara dgn Ayah Tiri di rumah, Beliau sendiri juga jarang menanyakan keadaan saya. Tetapi kegembiraan Ayah Tiri bisa dirasakan setiap orang.

Setiap kali kembali ke tempat kuliah, Ayah Tiri pasti akan mengantar sampai ke tempat yg cukup jauh. Sepanjang perjalanan Beliau kebanyakan hanya menghisap pipa rokoknya. Semua kata² yg ingin saya utarakan kpdnya tdk tahu hrs dimulai dr mana.

Sebenarnya dlm hati kecil sejak dulu sdh menerimanya spt ayah kandung, cinta kasih kadang kala sangat sulit utk diutarakan! Dgn demikian saya selalu tdk bisa merealisasikan janji saya terhadap Ibu.

Pd liburan thn baru, rumah terkesan ramai sekali. Saat itu saya sdh kuliah di semester-6. Adik meminta saya bercerita tentang hal² menarik di kota,Ayah Tiri duduk di belakang Ibu, sibuk mengeluarkan abu tembakau stlh itu memasukkan tembakau ke dlm pipa, wajahnya penuh dg senyum kebahagiaan. Saya bercerita ttg keadaan kota, Adik membelalakkan mata dgn penuh rasa ingin tahu.

“Ah, teman sekelas kakak kebanyakan sdh mempunyai ponsel & laptop, sedangkan kakak sebuah arloji pun tdk punya.......” Pd akhirnya saya mengeluh dgn nada bergumam. Saat itu saya melihat wajah Ayah Tiri sedikit tegang, segera ada perasaan menyesal tlh mengucapkan kata itu.

Saat liburan usai saya hrs meninggalkan rumah kembali kuliah. Spt biasa Ayah Tiri mengantarkan saya. Sepanjang perjalanan, bbrp kali Ayah Tiri memanggil saya, tetapi ketika saya menanggapi, dia membatalkan berbicara, sptnya mempunyai beban pikiran yg sangat berat. Saya sangat berharap Ayah Tiri bisa memulai topik pembicaraan, agar bisa berkomunikasi baik dgnnya, namun saya selalu kecewa.

Ketika berpisah, Beliau berkata dgn kaku, “Saya tdk mempunyai kepandaian apa², tdk bisa membuat hidup kalian bahagia, saya sangat menyesalinya. Jika engkau sukses kelak, hrs berbakti pd Ibumu, biarkan Ibumu bisa menikmati hari tua dgn bahagia…” Saya menerima koper baju yg disodorkannya.

Tiba² saya melihat sepasang matanya ber-kaca². Hati saya menjadi trenyuh, mendadak merasakan ada semacam dorongan hati yg ingin memanggilnya “Ayah”, tp kata yg tlh mengendap lama ini akan terlontar dari mulut, mendadak tertelan kembali.

Ketika saya tlh berjalan jauh, saya lihat Ayah Tiri msh berdiri ditempat itu sama sekali tak bergerak, bagaikan patung.
Dlm hati saya berjanji: ketika pulang nanti, saya pasti akan memanggilnya “Ayah”. Namun kesempatan itu tak pernah saya dapatkan lagi. Saya tak mengira perpisahan kali ini utk selamanya.

2 bln stlh itu saya mendapat kabar bahwa Ayah Tiri meninggal dunia. Bagaikan halilintar di siang bolong, benak saya menjadi kosong, serasa dunia ini sdh tiada lagi. Saya pulang dgn perasaan linglung, yg menyambut saya dirumah adlh pipa rokok berwarna coklat kehitaman yg tergantung di tembok.

“Satu²nya hal yg paling disesali Ayah adlh tdk sehrsnya menamparmu, setiap kali mengantarmu kembali ke kampus, dia sangat ingin meminta maaf, tetapi ucapan itu selalu tak bisa keluar dr mulutnya. Sebenarnya mslh itu tdk bisa menyalahkan dirinya, kamu tdk tahu betapa sengsara hatinya, pipa itu adalah kesedihan seumur hidupnya!” Dgn hati pedih Ibu bercerita.

Melihat benda peninggalan itu teringat pemiliknya, dgn hati² saya ambil pipa yg tergantung di tembok itu, pandangan mata saya kabur krn air mata, merasakan kesedihan yg menusuk hati. Ibu juga tergerak hatinya, dia lalu bercerita tentang misteri pipa rokok itu…

30 thn lalu, Ayah Tiri hidup saling bergantung dgn Ayahnya. Ibu dgn Ayah Tiri adlh teman sepermainan sejak kanak². Stlh mrk tumbuh dewasa, mrk sdh tak terpisahkan lagi. Tetapi jalinan kasih mrk mendapatkan tentangan keras Kakek, sebab keluarga Ayah Tiri terlalu miskin.

Krn Ibu & Ayah Tiri dgn tegas mempertahankan hubungan mrk, Kakek terpaksa mengajukan sejumlah besar mas kawin kpd keluarga Ayah Tiri baru mau merestuinya.

Demi anak satu²nya, Ayah dari Ayah Tiri itu pergi bekerja di perusahaan penambangan batu bara. Malang tak dpt ditolak, terjadi kecelakaan di tambang itu. Dinding tambang runtuh & menimbun sang Ayah utk selamanya. Barang peninggalan satu²nya hanyalah pipa rokok kesayangannya semasa hidup.

Ayah tiri sangat sedih, seumur hidup orang yg paling dia hormati & sayangi adlh Ayahnya. Kemudian Ayah Tiri menyalahkan dirinya & merasakan penyesalan yg mendalam hingga tak ingin hidup lagi.

Keesokan harinya dia diam² meninggalkan rumah dgn membawa pipa rokok itu, tak seorang pun tahu kemana perginya…

Dua thn kemudian Ayah Tiri kembali lagi kekampung halamannya, tetapi 1 thn sebelum Ayah Tiri kembali, Ibu dipaksa utk menikah ( dgn ayah kandung saya). Utk selanjutnya Ayah Tiri tdk menikah, yg menemani hidupnya adlh sebatang pipa rokok yg tdk pernah lepas darinya.

Stlh Ayah kandung meninggal, Ayah Tiri memberanikan diri menanggung segala tanggung jawab utk menjaga Ibu, Saya & Adik. Sejak awal Beliau menolak mempunyai anak sendiri, Beliau berkata kami ini adlh anak kandungnya.

Selesai mendengarkan penuturan Ibu, tak terasa wajah saya penuh dgn air mata. Sungguh tak menduga jika pipa rokok itu bukan hanya memiliki kisah berliku perjalanan cinta mrk, namun juga mengandung ingatan yg amat berat seumur hidup Ayah Tiri!

“Ayah Tiri meninggal dunia krn pendarahan otak, sebelumnya dia sudah tdk bisa berbicara, hanya memandang Ibu dgn tangannya menunjuk ke arah kotak kayu. Ibu mengerti maksudnya hendak memberikan kotak kayu tsb kpdmu. Di dlm kotak itu terdapat bbrp lembar surat hutang, mungkin dia bermaksud menyuruhmu membayarkan hutangnya. Seumur hidupnya, dia tak ingin berhutang pd orang lain….”

Dgn sesenggukan saya menerima kotak kayu itu & membukanya dgn perlahan. Ada 8 lembar kertas di dlmnya. Saya membacanya & terkejut bukan main, tubuh menjadi lemas terkulai diatas ranjang.

Ibu saya buta huruf, kertas² yg ada dlm kotak itu bukan surat hutang spt yg dikatakannya, melainkan tanda terima jual darah! Ayah tiri tlh menjual darahnya! Kepala saya terasa pusing & tangan saya lemas. Kotak kayu itu terjatuh, dr dlmnya menggelinding keluar sebuah alroji baru…

“Ayah! Ayah..” Berlutut didepan kuburan Ayah Tiri dgn air mata bercucuran, saya hanya bisa me-nepuk² onggokan tanah merah yg ada dihadapan
saya. Tetapi biar bgmnpun saya ber-teriak², tetap tak akan memanggil kembali bayangannya.

Ketika saya pergi meninggalkan rumah, saya membawa pipa rokok coklat kehitaman itu, saya akan mendampingi pipa ini utk seumur hidup saya, mengenang Ayah Tiri utk selamanya.

***

"Jangan sampai terjadi penyesalan atas perbuatan Anda selama ini, lakukan semua yang terbaik kpd orang² yg tlh berkorban banyak bagi masa depan Anda. Sayangi & hargailah mereka!!!"

Sekarang saatnya kawan, jangan tunggu nanti.. apalagi esok..!

Semoga Cerita Tentang Ayah Tiri ini bisa menginspirasi hidup anda!! smile

Losing Memorials Doesn't Mean Lost The Memories (UPDATED)

Saya akan mencoba menuliskan postingan menggunakan bahasa inggris. Dengan keterbatasan grammar saya, saya harap masih dapat dimengerti oleh siapapun yang meluangkan waktunya untuk baca blog ini.. Terimakasih.


LOST MEMORIAL DOESN'T MEAN LOST THE MEMORIES

Sometimes at my spare time, i write some notes. Notes about my impressed experiences. Notes that more like a diary or true stories. Because all the stories i wrote are fact, experienced by myself.
Here is explaining of this posting title..

Actually i love to write or tell a story. But i'm just kinda shy if people read my writings. At a time, i wrote some notes on my lovely book and read it everyday. But i was afraid if there will somebody read it..
Emm, I got some ideas; how if i re-type them on Ms.Word? But how if sometimes i lost my data?..
How about upload them to my blog? But then i was afraid if the ones who i wrote of find and read them. Finally, yeah. I didn't find any idea...

Time flies... Like a memory; we just remember a thing when there's something remembering us to it. Then we feel like having it again..
Time flies... I always read my notes everyday before, but then i begin to never, i don't even open the book again. Then my memories written on the notes automatically dissapear.. No, not disappear. It was just discovered. Yeah it is..

Some times pass away... Do you realize that there's always a song noticing us about some memories? What resentfull it is! Cause when i did, i lost the book. I lost my lovely book. It was automatically like i lost that memories too. I was so sorry for didn't re-typed or uploaded it to my blog. So if the book lost i had another. I were just realized what was one of my habits before. A beautiful habit..
I didn't find the book, so i tried to rearrange the sentences. But So sorry my words couldn't been the same as my notes before. Now i learned that may :

PEOPLE COULD REMEMBER EVERYTHING BUT THEY COULDN'T DO THE SAME THING PERFECTLY.

MEMORIES COULD LASTED ON A MEDIA BUT IT'S EVERLASTING ON A MIND.

MEMORIES DON'T HAVE ANY DUPLICATE.

YOU MAY LOST YOUR MEMORIALS BUT YOU WON'T LOST YOUR MEMORIES.

MEMORIES KILLER ARE A DEATH.
AND MEMORIES JUDGER IS GOD.
So,
MAKE SURE THAT ALL OF YOUR MEMORIES ARE GOOD THINGS.
How to have good memories?
BE POSITIVE THINKING → KEEP DOING GOOD THINGS → HEAVEN WITH YOU. INSYA ALLAH...

=================================================================================

UPDATED ON 24/12/2021 at 00:16 AM

Seriously my English was so awful... wkwkkw
Lagi belajar English waktu itu, maksa nulis pake Bahasa Inggris karena memang menurutku
beberapa kata dan kalimat akan lebih ngena kalo diucapkan dalam Bahasa Inggris.

Setelah baca postingan diatas, I think I adore myself.. Lol
Ditengah ke-awful-an bahasaku, dan ke-labil-an ku di kala itu, jadi inget kembali
how it feels to be myself.

Meskipun kemampuan ku serba terbatas, sangat-sangat gak pinter berkata-kata,
bahkan sampai sekarang...
Tapi paling tidak saat itu I always know what I want and what I did.
Confident for what I was but too shy to show off anything on me,
many fears on my head but I was so DEFINE. That's kinda cute ^^
happy with all I had and so excited of what might be coming.

Jadi di tulisan itu aku bercerita bahwa,
kehilangan kenang-kenangan bukan berarti juga kehilangan kenangannya.
Kenang-kenangan disini berarti suatu benda atau barang yang bagi kita punya kenangan.

Entah muncul dari mana...
Tapi aku dari SD udah suka banget nyimpen sesuatu yang ada kenangannya.
Aku selalu berpikir bahwa apa yang ku lalui sekarang pasti akan sangat terkenang dimasa depan.
Apalagi hal-hal yang terjadi di usia SD-SMA, kalau diingat ketika udah dewasa, semua akan
terasa berkesan. And those are things that made me now.
Aku gak akan bisa mengubah apapun,
aku akan cuma bisa inget dan menggambar ulang apa yang pernah ku lalui.
Jadi setiap aku sedang dalam situasi yang sangat menyenangkan,
atau bahkan disituasi yang burukpun,
Aku pasti akan berhenti sejenak, melihat sekeliling, merasakan vibes & smell nya,
dan sebisa mungkin ku simpan baik-baik dalam otakku.
Entah itu suatu peristiwa, atau benda kayak foto sama temen, surat,
hadiah dari orang lain pasti aku hargain banget, buku-buku lirik lagu
hasil tulisan tanganku, koleksi buku diary ku yang lucu-lucu, dll.
Mungkin dari situ awalnya, aku jadi suka ngambil gambar disetiap moment,
Dikit-dikit cekrek, lihat yang bagus dikit cekrek, akhirnya jadi suka ngedit juga.
Btw aku juga pernah nyimpen bunga mawar dan daun pinus kecil dalam Al-Qur'an ku.
Harusnya nggak boleh ya nyimpen benda di dalem Al-Qur'an.
Tapi waktu itu aku belum ngerti (SD tahun 2006 kebawah).
Bahkan aku sampe lupa kalo nyimpen 2 benda itu, 1 di Al-Qur'an dan 1 di kitab Berzanji ku.
Baru ku temukan lagi 6 tahun kemudian pas SMA, jadi sekitar tahun 2011.
Cutee nggak sih nemuin benda dari masa lalu ^^
Seketika keinget ceritanya kenapa bisa ku simpen disitu.. HEHE


Aku nggak inget kalo aku pernah suka nulis di buku dan ku baca setiap hari.
Dan emang iya, suka nulis dan dibaca ulang buat bahan review & introspeksi diri.
Sayangnya emang ilang bukunyaa... HUHU
Jaman itu belum ada twitter, etc.
Beberapa tahun terakhir aku suka nulis di Twitter, tentang apa saja...
Sekarangpun masih, cuman karena apa yang ku tulis terlalu private,
jadi aku buat akun tanpa identitas asli. Bahkan aku gak follow apapun,
karena emang khusus untuk nyimpen sesuatu aja.


Mungkin aku perlu melakukan kebiasaan itu lagi...
Menulis bukan cuma untuk menyimpan sesuatu, tapi juga untuk healing,
karena menulis bagiku menyenangkan. Dan lagi bisa ku baca setiap beberapa hari
sekali untuk mereview apa yang sudah ku lakukan, dimana kurangnya dan apa yang
harus ku perbaiki agar terus menjadi pribadi yang lebih baik.

Jujur susah banget untuk konsisten. But I should try..
Berhubung sekarang juga sedang punya masalah cukup berat, hehe..
Pengen bikin challenge 30 hari bercerita, jadi 1 hari 1 cerita atau catatan apapun.

Semoga konsisten... HEHE (Ini yang susah)

Points When Deciding Something

When you decide something. Some points you must pay attentions are :

1. What is your main purpose?
Healthy people do everything aim to a thing. People do a thing aimlessly is a fool. Which you are?

2. Is it useful?
Not just useful for yourself but also useful for other people.

3. What are the positive and negative impacts?
How many the impacts are? Which is more? If positive is more than negative, you should continue your decision. But if it's reverse, you shouldn't.

4. Who will be affected?
Ensure that people who will be affected is okay.

5. Do you believe that yourself can do it well?
You should brave enough. You must be able to handle the perils you'll probably face.

6. Have you already?
If you have. Let's do it!

Do you about to decide something? Can you answer all of the questions above well? If you do, jusssttttttttttttttttttttttttt good luck! =)

Friday, February 7, 2014

TES PERILAKU


Jangan lupa siapkan pulpen dan kertas, dan jangan lihat jawaban yang dibawah dulu yahh...
NB: tidak ada jawaban yg benar maupun salah.

PERATURAN
Pertanyaan yang dipilih adalah sesuatu yang kamu inginkan, bukan sesuatu yang telah ada, pilihlah jawaban yang pertama kali muncul dari pikiran anda!

Jawab dulu, baru lihat jawabannya...
Setelah itu, baru akan diketahui kamu termasuk tipe orang yang seperti apa.

Situasi :
Kamu berada di dalam hutan. Saat berjalan kamu melihat gubuk tua di sana.
(1) Apa kondisi pintu gubuk ? ( Terbuka / Tertutup )
Kamu masuk ke dalam gubuk dan melihat sebuah meja.
(2) Apa bentuk meja tersebut ? ( Bulat / Oval / Segiempat / Bujursangkar / Segitiga )
Di atas meja, ada sebuah pot bunga. Di dalamnya ada air.
(3) Berapa banyak air yang terisi ? ( Penuh / Setengah / Kosong )
(4) Dan pot tersebut terbuat dari apa? ( Kaca / Porselen / Tanah / Besi / Plastik / Kayu )
Kamu berjalan keluar gubuk. Saat berjalan kamu melihat sebuah air terjun dari jauh. Ada air yang mengalir ke bawah.
(5) Seberapa cepat airnya terjun ke bawah ?
(Pilih sebuah angka dari 0 sampai 10)
Kamu terus melangkah. Kamu menginjak sesuatu yang keras di tanah. Saat kamu melihat ke bawah, kamu melihat kilauan warna emas. Kamu membungkuk dan mengambilnya. Itu adalah
gantungan kunci dengan kunci-kuncinya.
(6) Ada berapa banyak kunci yang kamu lihat di gantungan kunci tersebut ? (Pilih sebuah angka
dari 1 sampai 10)
Kamu terus melangkah. Mencoba mencari jalan keluar dari hutan. Tiba-tiba kamu melihat sebuah
kastil.
(7) Bagaimana kondisi kastil tersebut ? ( Tua / Baru )
Kamu memasuki kastil dan melihat sebuah kolam berisi air, tampak kotor dan di dalam tampak
batu-batu permata berkilauan.
(8) Apakah kamu akan mengambil batu permata itu ? ( Ya / Tidak )
Di samping kolam tadi, ada kolam yang lain dengan air yang bersih dan di permukaan
tampak uang kertas mengambang.
(9) Apakah kamu akan mengambil uang tersebut ? ( Ya / Tidak )
Berjalan sampai ujung kastil ada sebuah pintu keluar. Kamu melewatinya dan berjalan keluar kastil. Di luar, ada sebuah taman besar, kamu melihat sebuah kotak di atas tanah.
(10) Apa ukuran kotak tersebut ? ( Kecil / Sedang / Besar )
(11) Terbuat dari apakah kotak tersebut ?
( Karton / Kertas / Kayu / Besi )
Ada sebuah jembatan di taman agak jauh dari kotak.
(12) Terbuat dari apakah jembatan itu ? ( Besi /Kayu / Rotan )
Di seberang jembatan, ada seekor kuda.
(13) Apakah warna kuda tersebut ? ( Putih / Abu-abu / Coklat / Hitam )
(14) Apa yang sedang dilakukan kuda ? ( Diam / Makan Rumput / Lari Kesana Kemari )
Oh tidak!! Sebuah tornado datang. Jaraknya agak jauh dari kuda.
Kamu punya 3 pilihan :
(i) Lari dan bersembunyi di dalam kotak ?
(ii) Lari dan bersembunyi di bawah jembatan ?
(iii) Lari ke arah kuda, menaikinya dan memacu kudanya sejauh mungkin ?

Berikut adalah penjelasannya :
(1) Pintu :
Pintu Terbuka kamu orang yang suka sharing
Pintu Tertutup kamu orang yang suka menyimpan segalanya untuk diri sendiri
(2) Meja :
Bulat/Oval teman manapun yang datang, kamu akan terima dan mempercayai mereka
sepenuhnya
Bujursangkar/ Segiempat kamu agak pemilih soal teman dan hanya berteman dengan mereka
yang selevel dengan kamu
Segitiga kamu sangat pemilih soal teman dan kamu tidak punya banyak teman di kehidupan
kamu
(3) Air di dalam pot :
Kosong hidup kamu kosong
Setengah Terisi apa yang kamu inginkan dalam hidupmu cuma setengah terpenuhi
Penuh hidup kamu terisi penuh dan ini sangat baik bagimu
(4) Bahan baku pot :
Kaca/Tanah/Porselin kamu lemah dalam hidup ini dan cenderung rapuh
Besi/Plastik/ Kayu kamu kuat dalam hidup ini
(5) Aliran air terjun :
0 tidak ada gairah seks
1 ke 4 gairah seks rendah
5 gairah seks rata-rata
6 ke 9 gairah seks tinggi
10 gairah seks tinggi!!! Tidak bisa hidup tanpa seks
(6) Kunci :
1 kamu punya satu teman baik dalam hidupmu
2 ke 5 kamu punya sedikit teman baik dalam hidupmu
6 ke 10 kamu punya banyak teman baik
(7) Kastil :
Tua menunjukkan bahwa hubungan terakhir kamu tidak baik dan tidak kamu ingat dalam memorimu
Baru hubungan terakhir kamu baik dan masih hangat dalam memorimu
(8) Batu permata :
YA ketika pasanganmu di dekat kamu, kamu akan melirik yang lain.
TIDAK ketika pasanganmu di dekat kamu, kamu akan berada di dekat dia terus
(9) Uang kertas :
YA bahkan ketika pasangan kamu tidak ada, kamu masih akan melirik yang lain.
TIDAK bahkan ketika pasangan kamu tidak ada, kamu masih memikirkan dia dan akan tetap
setia padanya, tidak melirik yang lain.
(10) Ukuran kotak :
Kecil ego kecil
Sedang ego rata-rata
Besar ego tinggi
(11) Bahan baku kotak :
Karton/Kertas/ Kayu (tidak berkilauan) kepribadian rendah hati
Besi kepribadian tinggi hati
(12) Bahan baku jembatan :
Jembatan Besi punya ikatan yang sangat kuat dengan teman-temanmu
Jembatan Kayu ikatan dengan tidak teman-temanmu tidak begitu kuat/sedang- sedang aja
Jembatan Rotan kamu tidak punya ikatan dengan teman-temanmu
(13) Warna kuda :
Putih kamu benar-benar suka/mencintai pasanganmu
Abu-abu/Coklat kamu hanya setengah suka/cinta pasanganmu
Hitam kamu tidak benar-benar suka/cinta pasanganmu
(14) Apa yang sedang dilakukan kuda :
Diam/Makan Rumput pasanganmu type rumahan dan orang yang sederhana
Lari Kesana-Kemari pasanganmu type yang liar Ini bagian paling akhir tapi yang paling penting
dari test ini.

Di akhir cerita, tornado dating. Apa yang akan kamu lakukan ?
Hanya ada 3 pilihan:
(i) lari dan bersembunyi di dalam kotak ?
(ii) lari dan bersembunyi di bawah jembatan ?
(iii) lari ke arah kuda, menaikinya dan memacu
kudanya sejauh mungkin ?
Apa yang kamu pilih ?
Arti simbol-simbol di atas sebagai berikut :
Tornado = masalah-masalah dalam hidupmu
Kotak = kamu
Jembatan = teman-temanmu
Kuda = pasanganmu
(i) Jadi, kalau kamu pilih kotak, artinya kamu suka menyimpan masalah-masalahmu untuk dirimu sendiri kapanpun kamu ketemu masalah.
(ii) atau jika kamu pilih jembatan, kamu akan mencari teman-temanmu kapanpun kamu ketemu masalah.
(iii) atau yang terakhir jika kamu memilih kuda, kamu akan mencari pasanganmu kapanpun kamu
ketemu masalah

Legenda Asal Usul Air Terjun Sedudo

Pada zaman kerajaan Kediri, sang raja memiliki seorang putri yang mempunyai penyakit aneh seperti cacar namun sangat menjijikan bagi yang melihatnya, akhirnya oleh sang raja yang tidak lain ayahnya sendiri putri tersebut di suruh untuk berobat ke sebuah padepokan yang berada di daerah Pace. Pemilik padepokan sekaligus teman dari raja ini disuruh menyembuhkan dan menyembuyikan identitas sang putri dari rakyat sekitar, akhirnya setiap pagi putri di mandikan di air terjun Roro Kuning untuk menyembuhkan penyakit sekaligus pada pagi hari air terjun roro kuning belum dipakai oleh rakyat sekitar.

    Kian hari penyakit putri berangsur – angsur sembuh, paras cantiknya kian terlihat kembali, anak dari pemilik padepokan tersebut mulai mengetahui siapa si putri ini. Bahwa si putri tersebut adalah anak dari raja Kediri yang sedang berobat di padepokan milik ayahnya.
Akhirnya kedua anak dari pemilik padepokan tersebut mengejar hati dari putri kerajaan Kediri.

   Pada akhirnya ketiga insan tersebut merajut cinta, namun cerita barulah bermulai ketika si putri tersebut sembuh dari penyakitnya, akhirnya sang raja dari kerajaan Kediri menjodohkan putri tersebut dengan calon pilihan sang ayah yang tidak lain adalah raja dari kerajaan Kediri, lalu kedua anak dari pemilik padepokan tesebut patah hati berat, akhirnya sampai berbulan - bulan kedua anak tersebut mengurung diri di sebuah kamar,hingga suatu ketika mereka keluar dari kamar dengan sikap yang berubah total. Dulu yang begitu ramah dengan orang sekitar kini kedua anak tersebut tidak memiliki sopan santun sama sekali terhadap orang lain semenjak peristiwa tesebut.

Karena sikap yang dimiliki oleh kedua anaknya, akhirnya membuat pemilik padepokan tersebut yang tidak lain adalah ayahnya sendiri mengutus kedua anak tersebut bersemedi untuk melupakan jalinan kasih dengan putri kerajaan Kediri, namun sebelum melakukan semedi kakak beradik ini mengucapkan sebuah ikrar sang adik tidak akan pernah sopan santun lagi kepada orang lain sedangkan sang kakak akan selalu hidup melajang.

     Sang kakak bertapa di sebuah air terjun tertinggi maka dari itu air terjun yang berada paling tinggi di namakan air terjun Sedudo yang artinya “Sing mendudo” atau dalam bahasa Indonesian artinya “yang melajang”, sedangkan adiknya bertapa di air terjun SingoKromo yang artinya “Sing Ora Kromo” atau dalam bahasa Indonesia artinya “yang tidak memiliki sopan santun”. Letak dari air terjun SingoKromo berada di bawah air Sedudo. Nama dari kedua air terjun tersebut di ambil dari janji mereka sewaktu akan melakukan semedi dulu.

Source : http://ilham-am.blogspot.com/2011/05/legenda-asal-usul-air-terjun-sedudo.html

Sunday, January 26, 2014

29 Puisi

Puisiiii.... Belum sempet baca semua, banyak banget sih baru beberapa aja tapi udah ngena banget. Read this :)


DI BALIK TIRAI RELIGIKU (puisi)

Ya Allah…
Kau telah menciptakanku dengan indah
Kau telah memberikanku kesempurnaan akal
Sehingga aku dapat melihat dan merasakan semua rahmat Mu
Serta karunia dari segala ciptaan Mu

Ya Allah...
Aku selalu bergetar jika mendengar nama Mu
Aku Takkan sanggup jika jauh dari Mu,
Karena itu menyengsarakan hatiku

Ya Allah...
Sering aku takut dengan azab Mu karena kelalaianku
Tapi entah kenapa aku sendiripun tak tahu
Kadang aku tergoda akan bujuk rayu nya
Yang menjauhkanku dari Mu

Ya Allah...
Setiap menjelang tidur ku selalu merasa takut
Takut tak punya waktu lagi untuk menyebutkan nama Mu
Apakah esok hari aku masih bisa mengagungkan nama Mu..

Puisi ke-1
Tangerang, 27 Februari 2001


Maha suci Allah...
Yang telah membuka hatiku untuk bertaubat
Serta bermunajat kepada Mu
Setiap langkah yang kujejakkan di bumi
Hanya untuk menuju kepada Mu
Ketika itu nafas pun dapat berpisah dari raga
Hanya dengan ijin dan kekuasaanMu...

Ketakutan akan dosaku selalu muncul...
Akankah akhir nafas berlalu dan berakhir
Dengan khusnul khotimah
Bayangan kehidupan setelah alam dunia
Selalu datang saat menjelang terlelap
Saat itu roh tak bersatu dengan raga
Saat itu jiwa melayang di bawah alam sadar
Apakah roh ini akan kembali....Atau
Bahkan tak bersatu lagi ‘tuk selamanya....
Atau bahkan singgah di tempat yang indah dan mempesonakan

Betapa Engkau Maha Agung...
Betapa Engkau Maha Mulia...
Yang mengetahui segala kejadian yang bakal terjadi
Allahu Akbar.....

Puisi ke-2
Tangerang, 16 Maret 2001


Saat ku ingat dirinya...
Tergambar semua bayangan bersamanya....
Apa yang terjadi pada kalbu ini
Sehingga aku menduakan cinta dan kasihku pada Mu
Terlalu banyak pengharapan
Akan merusak rajutan jiwa yang indah
Yang telah terjalin dalam kalbu
Keterbatasan ilmu telah mempersempit pandangan....
Hanya Sang Raja Ilmu
Yang tahu apa yang akan terjadi kemudian hari

Allahu Akbar....
Engkau Maha mengetahui....
Diri ini bisa mengenal dekat diri Mu bersamanya
Sekian lama kudambakan cinta Mu dan merindukan kasih Mu
Akhirnya kutemukan bersamanya...
Illahi Rabbi akan selalu kucinta
Walau dirinya hanya tinggal bayangan di mata
Dan hilang dari simpul hati....

Allah Maha pengampun bagi hamba-Nya yang bertaubat
Kupasrahkan dan keserahkan jiwa dan raga pada Mu
Diri ini terlalu hina untuk ke syurga Mu....Tapi
Ku sangat takut dengan neraka Mu
Ya Rabb.... Bimbinglah aku dengan segala cinta Mu....

Puisi ke-3
Tangerang, 2001



Sering terbayang kebahagiaan
Selalu terangkul bersamanya
Seseorang yang baik hati....
Dirimu bagai lautan yang api tak dapat kuselami sampai ke dasar hatimu
Kau sungguh bersahaja tapi begitu arogan...

Ucapanmu pedas tetapi penuh kebenaran
Kata-katamu menyakitkan tetapi obat kepedihan
Kau begitu tegar walau kadang menangis
Dirimu adalah imajinasiku....
Fikirmu adalah hatiku....
Sikapmu adalah figurku...
Dan senyummu adalah inspirasiku

Kebahagiaanmu merupakan dambaanku
Kesedihanmu merupakan airmataku
Takkan pernah terbersit di hati ‘tuk lari darimu
Semoga Allah selalu melindungi dan mencintaimu...
Dan semoga Allah mengampuni segala dosaku...


Puisi ke-4
Tangerang, 13 April 2001


Saat pertama jejakkan kaki padamu
Terbersit di dalam hati...
Hendak kemana dibawa diri ini...
Apakah tujuan langkah kaki ini...
Setiap langkah yang diiringi doa membawa berkah
Maka hidup yang bagaimana yang akan dijalani...
Alangkah indahnya hidup ini andai yang hidup tahu makna hidup

Melangkah ke tujuan yang baik akan selamat
Dan melangkah ke jalan yang ragu
Akan membawa petaka dan kesengsaraan
Tanyakanlah hati...
Apakah diri ini mahluk Allah yang berbakti
Serta temukanlah cahaya Nurani
Warna apakah yang akan terukir dalam hidup

Hati nurani takkan pernah berbohong
Takkan pernah keluar dari garis keimanan
Selama dia tetap terjaga


Puisi ke-5
Tangerang, Maret 2001



Di mata Illahi....
Kau sama halnya dengan yang lain
Begitu juga diri ini
Mengapa wujudmu selalu membayangi
Penyebab kesedihan dan kepedihan
Di hati yang gundah gulana...
Kau menjadi pengacau hati
Dan kau yang membuat galau hati
Tetapi kau jugalah yang menyejukkannya...

Kau membawa ke taman bunga keimanan
Sehingga bunga-bunga di hatipun tumbuh subur dan segar bersemi
Kau membawa ke alam pengharapan tanpa tahu kapan berakhir
Sehingga terlarut dalam lamunan yang semu...

Semoga diri yang manja dan mentah ini
Akan berubah dewasa dengan kematangan logika yang indah


Puisi ke-6
Tangerang, 16 maret 2001



Apakah yang ada dalam gelap...
Dengan sebenar-benar gelap...
Tak sebutir debupun mampu terlihat
Kala itu mata tak dapat berfungsi
Tetapi hati nurani tetap bisa meraba
Jika mata saat itu buta....
Jangan biarkan hati nurani membeku tak bergeming
Karena yang tahu arah kebenaran hanyalah dia

Terangilah dia dengan cahaya jiwa yang tulus
Yang selalu mendamba cinta-Nya
Dan menanti kasih-Nya

Puisi ke-7
Tangerang, 4 April 2001



Saat terpaku menyelamimu
Begitu terasa dekat dengan penciptamu
Betapa kau sangat tenang
Betapa banyak kau menyimpan rahasia
Tetapi dirimu tetap tak berbatas
Kau sangat bersahaja dan bersahabat
Tetapi kadangkala kaupun adalah bencana

Ketika malam datang bersama semilir angin
Yang menyentuh tubuh dan jiwaku
Akupun terpana dan terhanyut
Mengenangkan keindahan dan keangkuhanmu
Betapa Agung penciptamu...
Betapa Mulia keberadaanmu...
Betapa indah ciptaan Rabbku...

Puisi ke-8
Tangerang, April 2001
Setapak demi setapak
Kujejakkan kaki menyusurimu
Apa yang kucari...
Sehingga diri ini mau berpeluh keringat
Menelusurimu...

Setiap langkah selalu ku memuji Mu
Betapa besar kuasa Mu
Betapa agung diri Mu

Semakin jauh kuberjalan semakin penat diri ini
Tapi...Entah mengapa
Semakin terasa bahagia di hati ini
Maha Suci Allah yang telah membahagiakan hati

Semakin letih kaki ini, semakin ku merasakan
Betapa sempurna ciptaan dan karunia Mu
Saat terbentang anugerah Mu,
Yang begitu indah dan menakjubkan
Aku tenggelam dalam pesona Mu dengan doaku
Sungguh diri ini tak berarti apa-apa
Sungguh kepintaran yang kumiliki hanya fatamorgana

Betapa Engkau penentu segalanya
Hidup dan matiku Engkau yang atur
Sehat dan sakitku Engkau yang kehendaki
Allahu... Akbar... Hanyutkanlah aku
Dalam lautan keagungan Dan kebesaran Mu

Puisi ke-9
Cibodas, 15 April 2001



Ya Rabb...
Andai ku bisa menatap Mu
Pasti takkan sanggup ku memandang Mu
Andai ku dapat melihat takdirku
Tentu ku tak kuasa ku ‘tuk menitikkan airmata

Begitu malu ku menatap dan bersua dengan Mu
Karena ku takut dengan azab Mu
Begitu hinanya diriku dihadapan Mu
Begitu banyaknya dosa yang t’lah kutanamkan di taman Mu
Begitu banyaknya benih kufur yang t’lah ke tebarkan di persada Mu

Ya Rabb...
Aku memohon kepada Mu
Aku bermunajat kepada Mu
Sucikanlah hatiku agar tak hina di mata Mu
Berilah aku hidayah agar tak berpaling dari nikmat Mu
Bimbinglah aku agar selalu mencintai Mu
Maha Suci Engkau Ya Allah...
Yang maha mengetahui segala yang tak ku tahu

Puisi ke-10
Tangerang, April 2001



Kala kurasakan sejuknya percikkanmu
Terbayangku pada kejernihan hatimu
Saat kuberdiri memandangmu
Terbayangku pada keindahan dirimu
Dan ketika kuberjalan menghampirimu
Terasa begitu kecilnya diri ini dibandingkan denganmu

Kau begitu gagah tetapi terselubung misteri
Suaramu bergemuruh tetapi tampak bersahabat
Kau banyak menebar pesona tetapi tak mudah diraih
Semua kata akan terangkai indah jika berada di sisimu
Semua laku akan tersaji menawan jika bersama denganmu

Hanya kebahagiaanlah yang terajut indah di dalam kisi-kisi hati ini
Dan hanya cintalah yang terukir jelas dalam sendi-sendi tubuh ini
Seketika itu sadarlah diri dan jiwa ini...
Bahwa sungguh Allah Maha Agung...
Bahwa sungguh Allah Maha Perkasa... lagi Maha Indah...

Puisi ke-11
Cibodas, Mei 2001



Saat ku mengingatmu, kau pergi menjauh dariku
Saat ku akan meninggalkanmu, kau mendekatiku
Tetapi semua itu hanyalah sebuah fatamorgana
Aku sadar...Itu adalah suatu imajinasi semu sesaat
Karena selalu tak kutemukan jalan ‘tuk berpijak
Sehingga ku terbang melayang di dalam khayal
Mengikuti alur rasa yang tak bisa dimengerti logika

Aku tahu itu hanyalah hayalan dengan penuh pengharapan
Berharap sesuatu yang tak mungkin diraih
Dan akupun tahu itu hanyalah bayangan
yang sedang mencari persembunyian tuannya

Hanya kau yang tahu di mana bayangan itu
Dan hanya kaulah yang tahu di mana tempat persembunyiannya

Saat kau perlihatkan semua itu
Saat itu pula segala rasa hampa dan tanpa logika
lalu menghilang seketika
Walau hampa tetap selalu kunikmati rasa yang hilang itu
Dan ku takkan pernah bisa menolak jika rasa itu kembali

Puisi ke-12
Tangerang, 2002



Apa kabar sahabat...
Aku datang lagi padamu
Tetapi dengan membawa hati yang hampa
Karena manisnya telah hanyut
Bersama dengan hujan kemarin sore
T’lah kucoba ‘tuk mendapatkan manis yang abadi
Tetapi tak kutemukan di sini...

Semakin hari... semakin hilang simpatiku
Semakin hari... semakin memudar pesonamu
Tetapi tiada kata yang dapat menggambarkan hati
Dan tiada asa yang dapat mengakhiri kisah

Sahabat...
Kesedihanmu menggugurkan bunga-bunga di taman hati
Airmatamu menghancurkan karang-karang di lautan
Hilangnya dirimu dapat menggelapkan terangnya siang
Tegarnya hatimu seperti gunung-gunung di atas permadani hijau...

Sahabat...
Walau tak indah aku tetap mengagumimu
Walau hampa aku ingin selalu bersamamu
Biarpun aku hanya dinding yang bisu bagimu
Tetapi aku tetap menyayangimu
Dan semoga Allah selalu mencintaimu....

Puisi ke-13
Tangerang, Januari 2002


Ingin kumenjerit agar kau mendengarkan
Ingin kuteriak agar kau bergeming
Ingin kubisikkan kata agar kau tak berkhayal
Sehingga tak terbang dengan sayap-sayap yang rapuh...

Kau telah melukiskan kisah yang takkan terhapus
Kau telah merangkaikan kata yang takkan terputus
Dan aku hanyalah sebuah dinding bagimu
hanya bisa menyaksikan kisahmu dengan segala kebisuanku
Aku hanyalah sebuah pagar bagimu
hanya bisa membatasi ucapanmu dengan segala keheninganku

Kau dapatmeninggalkannya kapanpun kau ingin
Kau dapat mendatanginya kapanpun kau butuh
Kau dapat merengkuhnya kapanpun kau gundah
Dan kaupun bisa menghapus coretan yang t’lah tergores padanya
Kau juga bisa mencabutnya dengan segala kekuasaanmu

Dinding dan pagar mu tetap berdiri kokoh
Walaupun diterpa badai dan gempa
Karena kau telah wujudkan dia dari bahan yang kokoh
Kau telah warnai dia dengan lukisan yang indah
Dan kau telah ukir dia dengan liukan yang tajam
Hiasilah dia selalu dengan senyum dan cintamu
Agar dia tetap memancarkan pesona hatimu

Puisi ke-14
Tangerang, Januari 2002



Dulu aku tak mengenalmu...
Dulu aku tak tahu siapa dirimu
Hanya waktu dan nasiblah yang mengenalkan keberadaanmu
dalam kehidupanku

Sahabat...
Pernah ku goreskan luka di hatimu, kau tetap tersenyum
Pernah ku tumpahkan airmatamu, kau tetap bahagia
Pernah ku usik ketenanganmu, kau tetap bersahabat
Dan pernah ku meninggalkanmu dalam kesedihanmu, kau tetap bersahaja

Sahabat...
Tak terlintas di benak ‘tuk menyakitimu
Tak terbersit di hati ‘tuk meninggalkanmu
Dan tak pernah terlintas di fikir ‘tuk meninggalkanmu
Semua karena khilaf dan lupaku

Sahabat...
Bagiku kau adalah bunga yang indah
Bagiku kau adalah lautan yang luas
Dan kau adalah pelita yang menyala
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkahmu


Puisi ke-15
Tangerang, Februari 2005







Ketika malam menyelimuti langit yang kelam
Tampak gelap di setiap langkah dan jalan
Doapun tak henti berkumandang
agar hati tetap diterangi cahaya dan Cinta Mu

Pernah terbersit di hati ‘tuk menghilang dari peredaran Mu
Pernah terlintas di benak ‘tuk mengakhiri kisah
Tapi dengan cinta Mu bisa bertahan dan terus bertahan
Sampai saatnya nanti yang ditentukan tiba

Ooh...........
Betapa hampanya diri ini
Betapa letihnya jiwa ini
Betapa beratnya peluh yang mengalir dalam batin ini

Ya Rabb....................
Tak ada satu kuasapun yang dapat menolong
Tak ada satu bait katapun yang bisa menyejukkan hati
Serta tak ada setitik airpun yang sanggup menghilangkan dahaga
Juga tak ada seorangpun yang tulus menjawab semua firasat

Ya Rabb....................
Hanya Engkau yang dapat menolong kami
Hanya Engkau yang bisa membahagiakan hati kami
Dan hanya Engkau yang tulus menghapus kekhilafan kami

Wahai Rabb......
Cinta Mu selalu dalam pengharapanku
tapi sering pula terabaikan dalam ujubku
Nama dan sifat Mu selalu dalam penghayatanku
tapi sering pula terlupaku dan jauh dari Mu

Ya Rabb............
Semoga dalam sisa usia ini
selalu cinta pada Mu serta kekasih Mu
Semoga dalam setiap kata-kata ini
selalu Indah dengan bunga-bunga dzikrullah
dan Semoga selalu dalam keberkahan di dunia dan akhirat

Allahu Akbar.............Kau sungguh maha Pengampun
Subhanallahu............ Kau sungguh maha Penyayang

Ya Allah........Bimbinglah diri ini dalam ridho Mu...
Akhirilah kisah hidup ini dalam khusnul khotimah......
Amin........ Ya Rabbal ‘alamin......

Puisi ke – 16
Tangerang, September 2005



Saat terbujurku di pembaringan
tak dapat ku ‘tuk merengkuh indahnya duniaku
Saat penat tubuh menari-nari di jaringan syarafku
tak sanggup ku ‘tuk bercengkrama dengan alamku

Ooh.........
Betapa bahagia saat diri dapat tertawa
Betapa gembira saat jiwa terbuai canda
Tapi.... Yang terasa kini tak seperti yang diharap
Inilah takdir yang tak dapat ditolak
Inilah Cinta-Mu yang harus disambut dengan dzikir
Dan inilah Sayang-Mu yang disyukuri dengan tawaddu’

Ya Rabb...........
Terima kasih Kau telah menyayangi diri ini
Terima kasih Kau telah mengingatkan jiwa ini
Dan terima kasih atas karunia yang Kau berikan
Pada hamba-Mu yang tak berdaya dan hina ini....

Ya Rabb..........
Akan kuagungkan semua Cinta-Mu
Akan kuselami semua Karunia-Mu
Dan akan kusyukuri semua nikmat-Mu Ya Rabb.....

Ya Rabb.........
Panjangkanlah usiaku seiring dengan Rahmat-Mu
Muliakanlah hidupku senafas dengan Hidayah-Mu
Serta Cintailah jiwaku selaras dengan Karunia-Mu

Puisi ke – 17
Tangerang, 6 Desember 2005



Wahai kau yang di pojok sana.....
Kutahu apa yang kau harapkan
Kutahu apa yang kau dambakan
Dan akupun tahu kau tak berharap hidup
dan dilahirkan dalam duniamu kini

Tapi...itulah takdirmu
Itulah wujud kehidupan yang harus kau rengkuh
Jangan kau sesali semua itu
Jangan kau ingkari apa yang sudah digariskan

Sobat......
Setiap kata yang kau ucapkan penuh haru
Setiap lagu yang kau nyanyikan penuh rintihan
Dan setiap laku yang kau perankan penuh kesedihan

Sobat......
Kau takkan bisa merubah duniamu dengan
keterbatasan akalmu
Kau takkan bisa mengganti wajahmu dengan
keterbelakangan ilmumu

Sobatku di ujung jalan.....
Kau tak bisa kusentuh tetapi kau begitu menyentuhku
Kau jauh dari penglihatanku tetapi kau ada di depan mataku

Aku ingin kau bahagia tanpa dirundung kesedihan
Aku ingin kau tertawa dengan pancaran cahaya syurgamu
Dan aku ingin kau mulia dengan segala keterbatasanmu

Wahai Rabb Penguasa Hati......
Peliharalah mereka dengan segala cinta Mu
Sayangilah mereka walau kadangkala menghindar
Muliakanlah mereka walau seringkali lalai
Karuniakanlah mereka nikmat dan hidayah Mu
Walau mereka acapkali lupa

Rabb.....bahagiakanlah bagi hati-hati yang teraniaya...

Puisi ke – 18
Tangerang, Nopember 2005



Tuhan.......
Aku tak pernah menyangsikan Kasih Mu
Aku tak pernah meragukan Sayang Mu
Akupun tak pernah mengingkari takdir Mu
Tapi mengapa Tuhan.....?
Apa yang terjadi pada diri dan jiwa ini
Mengapa gundah selalu menghampiriku
Mengapa gelisah selalu menemaniku
Tuhan...... Berikanlah jawaban Mu
Aku mohon Tuhan....... Tunjukkanlah......

Puisi ke – 19
Tangerang, Nopember 2005



Tuhan.......
Jangan biarkan aku larut dalam dukaku
Jangan biarkan aku tenggelam dalam lamunan semuku
Jangan diamkan aku terlena dalam khilafku
Dan jangan biarkan tetesan airmataku menggenang kemerah-merahan

Tuhan......
Dengarkanlah rintihan doaku, agar selalu dalam rahmat Mu
Hapuskanlah airmataku, agar tak ada lagi
kesedihan yang mencengkramku
Redamkanlah amarah dan dendamku, agar terpancar cerah
cahaya hati nuraniku
Serta tenangkanlah gemuruh yang menggebu di dadaku
Sehingga aku dapat membaca isyarat Mu

Tuhan......
Kau begitu Agung dan Mulia
Hanya Kau yang yang dapat membolak-balikkan hatiku
Hanya Kau yang berkuasa atas hidupku
Dan...Hanya Kau yang pantas aku cintai
Tapi......Kenapa ada cinta lain bersemayam dihatiku.....?
Tuhan maafkan aku tlah membagi cintaku...

Puisi ke – 20
Tangerang, 21 Desember 2005



Kau begitu kunantikan
Kau yang selalu kurindukan
Tetapi kau tlah menghilang tanpa jejak
Dan kaupun lenyap bagaikan diselimuti kabut

Aku tak pernah tahu isi hatimu
Aku tak pernah mengerti maksud dari perhatianmu
Dan akupun tak pernah membalas senyummu
Sampai akhir perjumpaanmu

Sahabat hatiku......
Kini kau mengisi sebagian dalam mimpiku
Bayangmu selalu menari-nari dalam benakku
Andai karma itu ada dalam kehidupanku
Maka itulah yang kini keperankan

Tuhan.........
Biarkan dia menjadi kenangan bagiku
Aku tak berharap dia hadir dalam kehidupanku
Tapi hidupkanlah dia dalam wujud sahabatku yang lain
Sebagai pengganti dia yang tlah hilang

Tuhan........
Sayangilah orang-orang yang tlah mencintaiku
Cintailah mereka yang tlah mengisi relung hatiku
Serta bahagiakanlah mereka yang hatinya dipenuhi dengan cinta
Dan lindungilah mereka selalu dalam Rahmat Mu

Puisi ke – 21
Tangerang, 21 Desember 2005



Bunda..........
Itulah panggilan yang pantas kau sandang
Itulah cahaya yang selalu terpancar di matamu
Takkan pernah lepas sayangku terhadapmu
Takkan pernah terbayang bahagiaku jika kau tiada

Bunda...........
Ku tahu begitu banyak derita yang kau dera,
Demi aku yang ingin air susumu
Begitu banyak luka tlah tergores dihatimu,
Hanya untuk memberikan aku sesuap nasi
Sungguh banyak airmata yang tlah tertumpahkan,
Karena aku yang ingin kau selamatkan dari nista
Dan begitu besar pegorbanan yang tlah kau hadirkan,
Dalam menanti aku tumbuh dewasa

Bunda..........
Aku pernah meninggalkanmu dalam kesendirian
Aku pernah menjauhkanmu dari kasih sayangku
Dan akupun pernah mengabaikan nasehatmu dari hidupku
Sehingga membuat genangan airmata dikelopak matamu
Begitu hinanya aku di matamu tapi kau tetap memelukku
Begitu kotornya aku di sela kehidupanmu tapi kau tetap menciumku

Ooh bunda..........
Hatimu bagaikan permata di mataku
Wujudmu bagaikan bidadari dalam kehidupanku
Senyummu bagaikan air yang menyejukkan dahagaku
Dan nasehatmu bagaikan bunga dalam taman hatiku

Bunda..........
Ijinkan aku bersimpuh di kakimu,
Agar terhapus setitik luka di hatimu
Biarkan aku larut dalam rangkulan pelukmu,
Agar terobati sekuntum derita yang tlah kau simpan
Dan berilah aku waktu untuk mencium syurgaku,
Agar setiap titik bahagiamu dapat ku rasakan

Bunda..........
Kau adalah mutiara hatiku
Kau adalah pelita dalam perjalanan hidupku
Kau adalah bunga dalam jiwaku
Semoga Allah menyayangimu sebagaimana kau mencintaiku
Dan semoga khusnul khotimah di akhir hayatmu....
Amien..............

Puisi ke – 22
Tangerang, 22 Desember 2005



Sahabat..................
Dulu aku tak mengenalmu...
Dulu aku tak tahu siapa dirimu
Hanya waktulah yang mengenalkanmu
Dalam perjalanan hidupku

Sahabat..................
Kau adalah bunga yang indah
Kau adalah lautan yang luas
Dan kau adalah pelita yang menyala
Dalam marahmu kutahu ada sayangmu
Di balik kata-kata pedasmu kutahu ada perhatianmu

Sahabat...............
Senyummu bagai air menyejukkan dahaga
Kebaikanmu dapat menumbuhkan bunga-bunga yang layu
Semoga Allah senantiasa meridhoi setiap langkahmu....
Dan semoga Allah selalu mencintai dan menyayangimu.....
Amien..............

Puisi ke – 23
Tangerang, 17 Januari 2006



Waktu berlalu tak pernah akan berhenti
Dan kematianpun akan semakin mendekati
Bagaikan air mengalir menuju muaranya..

Dalam sekejap terhiasilah hati pada nuansa ukhrawi
yang mewarnai jiwa dan raga

Kekosongan hati adalah santapan bagi sang durjana
yang siap menyeret ke lembah curam lagi terjal
Kelemahan iman adalah selimut bagi sang pendosa
yang tiada pernah takut pada kematian

Siapkah diri yang menjalani hidup...?
Bagaimanakah takdir yang menggores pada diri...?

Rabb...
Terangilah jalan hidup ini, agar tak nampak gelap dalam jiwa
Luaskanlah ilmu dan fikir ini, agar tak terpedaya sang penggoda
Lapangkanlah dada ini, agar tak kotor hati dan darah
Dan kokohkanlah iman ini, agar selalu dapat berjumpa dengan Mu

Puisi ke-24
Tangerang, 13 Desember 2006



Aku punya Jiwa dan jiwa punya aku....
Aku tak pernah kesepian karena jiwa selalu bersamaku
Aku tak pernah bersedih karena jiwa selalu menghiburku

Saat aku jatuh Jiwa yang menolongku
Ketika aku jenuh Jiwa yang memperhatikanku
Dan sewaktu aku menangispun Jiwa yang menghiburku

Jiwa....
Kau lah teman sejatiku
Kau lah cahaya hatiku
Dan kaulah Mahkota kehidupanku
Jika kau tiada maka musnahlah diriku

Jiwa....
Kau mengajariku mengenal Asma Tuhanku
Kau melantunkan irama Rabbani pada Ruhku
Dan pasti kau akan berdalil di hari pembalasanku nanti

Rabb....
Bahagiakan lah Jiwa untukku seutuhnya
Cintailah Jiwa hatiku selamanya
Dan Bimbinglah Jiwa hidupku ke jalan Mu
Amin Ya Allah..
Ya Rabbal alamin....

Puisi ke-25
Tangerang, 14 Desember 2006




Saat badai tiba-tiba datang menerpa.....
seketika itupun nafasku terhenti
seakan lepas ruh dari raga
Aliran darah tersumbat di simpul nadi
seakan tak ingin mengalir kembali
Dan jiwapun ikut terbang melayang
Seakan tak hendak berjumpa dengan diri...

Tubuh lunglai, kaku tak bergeming ada di hadapanku
Terbaring membujur kearah Kiblat
Diam membisu tak menguntai kata
Hanya suara merdu KalamMu dari sang pendatang yang menggema

Yaa Rabb.....
Tak sanggupku melihat tubuh itu
Tak hendak aku berpisah dari tubuh itu
Tak kuasa aku dengan kebisuan tubuh itu

Yaa Rabb....
Andai aku boleh memohon, hidupkan tubuh kaku itu
Agar aku bisa merengkuhnya dengan hangat tubuhku
Dan andai aku boleh mengigau,akupun ingin seperti itu
Agar tak kurasa sekaratku dalam nyata

Yaa Rabb.....
Ampunilah diri yang lemah ini...
Semua adalah kuasa Mu yang ku junjung tinggi
Semua adalah Taqdir Mu yang ku ikhlaskan
Andai waktu dapat ditunda banyak cinta pasti didapat
Cinta tak sempurna dari sang pemikir yang tak berpikir

Rabb.......
Bimbinglah hati dan jiwa ini yang sempat hilang tak bertuan
Cintailah diri ini yang sempat kehilangan nyawa cinta Mu
Jernihkanlah akal ini yang sempat berpikir melebihi batas pikirku

Rabb.......
Terima kasih atas nafas yang telah Kau hembuskan
Terima kasih atas akal yang telah Kau sempurnakan
Terima kasih atas nikmat yang telah Kau karuniakan
Semoga Khusnul Khotimah dalam sisa perjalanan ini
Amiiin....

Puisi ke – 26
Tangerang, Mei 2007



Kuambil air yang suci dari tempat suci
Kubasuh mukaku yang penuh debu dan sedu
Kuberdiri menghadap kiblat ‘tuk berjumpa dengan Tuhanku
Kuangkat tanganku ‘tuk takbir mengagungkan nama Mu
Lalu tersungkurku bersujud ‘tuk menghiba kepada Mu
Dan kuangkat kedua tanganku ‘tuk memohon ridho dari Mu

Sungguh bahagia karena aku mengenalMu
Sungguh bahagia ketika aku menjumpaiMu

Semoga hanya Kau dalam jiwaku
Hanya Kau dalam hatiku
Dan hanya Kau dalam pikirku
Sampai akhir hayatku nanti
Amin Yaa Rabbal alamin...

Puisi ke – 27
Tangerang, Agustus 2007



Sahabat.......
Kau begitu cerdas dalam penglihatanku
Kau begitu ceria dalam alam sadarku
Dan kaupun begitu mulia dalam mata hatiku

Dalam wajahmu terpancar cahaya hatimu
Dalam langkahmu tergambar pesonamu
Dan dalam senyummu tersirat ketulusanmu

Semangatmu menumbuhkan inspirasiku
Ilmumu menyejukkan nuansa akalku
Dan penampilanmu menghiasi alam pikiranku

Yaa Rabb......
Sungguh indah hasil karya Mu
Sungguh sempurna ciptaan Mu

Sahabat.....
Semoga kau tetap tegar dalam setiap langkahmu
Selalu bahagia dalam perjalanan hidupmu
Selalu di ridhoi Allah dalam setiap kata-katamu
Dan selalu dihiasi bunga-bunga indah
dalam taman hatimu yang dirajut sutra

Yaa Rabb....
Bahagiakanlah mereka yang berhati mulia
Cintailah mereka yang selalu di jalan Mu
Lindungilah mereka yang mencintai jihad Mu
Karuniakanlah mereka ilmu yang bermanfaat
Dan Khusnul khotimah di akhir hayatnya..
Amien.............
Puisi ke – 28
Tangerang, 20 Januari 2008



Derai tawaku menyiratkan sedihku
Debar jantungku menandakan galauku

Detik demi detik kutebar senyumku
Tapi tak menumbuhkan bunga di taman hatiku
Waktu demi waktu kutebar pesonaku
Tapi tak meruntuhkan marah dan aroganku

Ku temukan cinta yang semu
dari seorang manusia yang semu
Ku rasakan sayang dalam fatamorgana
dari seorang hamba yang fatamorgana

Begitu ingin ku menjadi ombak yang lembut
Yang selalu bergulung dan saling berkejaran
Begitu ingin ku menjadi burung yang cantik
Yang selalu berkicau dan saling menyapa

Rabb........
Kunantikan selalu cinta Mu untukku
Kurindukan selalu sayang Mu untukku
Kurasakan selalu nikmat Mu untukku
Dan kupasrahkan hidupku hanyalah untuk Mu

Puisi ke – 29
Tangerang, 21 Januari 2008

 

Source : http://yuseakamarullah.blogspot.com/p/di-balik-tirai-religiku-puisi.html

© ikanurfallah ♔
Maira Gall